Y.A. MAHA MOGGALLANA MENGUNJUNGI ALAM SEMESTA LAIN
Sebuah Kutipan dari Kitab Suci Gudang Permata Agung [1]
diterjemahkan oleh Ron Epstein Religion East and West, Edisi 5, Oktober, 2005
Pengantar Penerjemah Kisah berikut adalah tentang Yang Mulia Mahā-Moggallana,seorang murid yang telah tercerahkan dari Buddha historis Śākyamuni. Mahā-Moggallana melakukan perjalanan ke tata surya yang jauh, ke sebuah planet yang dihuni oleh orang-orang raksasa, dan di mana juga terdapat seorang Buddha beserta para murid yang berlatih di bawah bimbingannya.
Kisah yang mengingatkan kita pada Gulliver karya Swift di negeri para raksasa ini sangat luar biasa dalam banyak hal. Buddha dan Mahā-Moggallana kemungkinan besar hidup pada abad kelima dan keenam SM. Di Barat (Eropa), hingga masa Galileo (1564-1642), sebagian besar orang terpelajar berpikir bahwa seluruh kosmos berputar mengelilingi bumi dan terdiri dari matahari serta tujuh planet.
Mereka tidak menyadari bahwa bintang-bintang adalah matahari-matahari lain. Kisah yang diceritakan di sini menunjukkan bahwa 2.500 tahun yang lalu, umat Buddha telah menyadari keberadaan kosmos yang luas yang dipenuhi oleh matahari, planet, dan kehidupan yang memiliki kesadaran. Orang-orang berorientasi sains di masa kini sering memiliki kecenderungan untuk mengabaikan kosmologi non-Barat sebagai mitos yang terbatas, primitif, dan menyimpang (dalam konotasi negatif). Dalam kisah ini, kita disajikan dengan sebuah kosmologi yang tampaknya lebih dekat dengan pandangan ilmiah kontemporer tentang alam semesta fisik daripada pandangan Barat sebelum Galileo.
Tentu saja, pernyataan-pernyataan mengenai kekuatan spiritual Sang Buddha dan Mahā-Moggallana serta ukuran orang-orang di planet yang jauh tersebut tidak mudah menyatu dengan pola pikir materialis sains kontemporer.
Dalam cerita tersebut, Mahā-Moggallana berusaha menemukan batas ruang dari suara Sang Buddha saat Beliau membabarkan Dharma. Pokok persoalannya bukanlah suara fisik yang merambat dalam bentuk gelombang melalui udara. Ketertarikan Mahā-Moggallana terletak pada jangkauan dari apa yang mungkin kita sebut hari ini sebagai suara telepati , sebuah suara yang, jika kita memiliki pelatihan yang tepat, dapat kita dengar langsung di dalam pikiran kita.
Ini juga merupakan kisah peringatan. Di satu sisi, kisah ini memperingatkan kita akan bahaya arogansi terhadap kemampuan dan pemahaman kita sendiri. Dalam perjalanannya, Mahā-Moggallana menyadari keterbatasannya sendiri serta luasnya welas asih, kebijaksanaan, dan kekuatan Sang Buddha. Di sisi lain, Buddha dari dunia lain itu mengajarkan kepada para muridnya bahwa, meskipun Mahā-Moggallana tampak sangat kecil dan seolah tidak berarti bagi mereka, ada banyak hal di dalam dirinya yang tidak langsung terlihat; ia benar-benar layak mendapatkan rasa hormat mereka yang tinggi.
Dengan demikian, cerita ini juga mengecam prasangka dangkal dan ejekan terhadap mereka yang tampak berbeda dari diri kita sendiri. Di sini kita mendapat sebuah pelajaran, yang berusia ribuan tahun, bahwa orang-orang dari budaya dan kelompok etnis lain pantas mendapatkan rasa hormat kita, dan bukan hanya mereka, bahkan alien dari dunia lain! Saya menekankan tema-tema tersebut bukan karena itu merupakan pesan inti dari cerita (yang sebenarnya adalah tentang jangkauan suara Buddha yang tak terbayangkan), melainkan karena tema-tema tersebut dapat dengan mudah terabaikan saat kita mempertimbangkan ramifikasi dari topik utamanya.
Terjemahan di bawah ini adalah sebagian kecil dari Kitab Suci Gudang Permata Agung, sebuah kumpulan dari berbagai ajaran Buddha Mahayana yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin pada tahun 280 M dan yang kemudian juga diterjemahkan ke dalam bahasa Tibet. Versi bahasa India-nya sudah tidak ada lagi. Pilihan yang diterjemahkan di sini merupakan bagian dari bab berjudul “Persamuan [yang Diajarkan oleh] Vajrapāṇi,” yang juga beredar sebagai kitab suci tersendiri. Tema utama dari bab tersebut adalah kualitas-kualitas tersembunyi yang tak terbayangkan dari tubuh, suara, dan pikiran para Buddha.
Vajrapāṇi kembali berbicara kepada Bodhisattva Tekad Tenang (Quiet Resolve):
“Saya sekarang sedang mengamati ke segala arah: semua iblis surgawi dan dewa brahma di dunia surga, para biksu Buddha dan Brahmana, serta semua dewa dan manusia lainnya. Tidak ada satu pun yang dapat menemukan batasan seberapa jauh kata-kata yang dibabarkan oleh Sang Tathagata dapat didengar. Mengapa? Saya sendiri teringat sebuah peristiwa yang terjadi ketika Sang Bhagavan (Yang Dihormati Dunia)berada di Puncak Hering, dikelilingi oleh rombongan seluruh Bodhisattva, dan sedang membabarkan sebuah kitab Dharma berjudul ‘Jangkauan Suara Murni’ demi sejumlah besar makhluk hidup.
“Pada waktu itu, setelah Bodhisattva Maitreya membuat pernyataan mengenai jangkauan tersebut, Yang Mulia Mahā-Moggallana memiliki pemikiran ini, ‘Saya ingin menguji seberapa jauh suara Sang Tathagata menjangkau.’ Kemudian Mahā-Moggallana tiba-tiba menghilang dari tempat duduknya. Muncul kembali di puncak Gunung Sumeru, ia mendengar suara Sang Buddha seolah-olah Beliau berada tepat di depannya. Ia kemudian menggunakan kekuatan spiritual kemampuan tubuh tanpa halangan miliknya[11] untuk melakukan perjalanan ke ujung batas Sistem-Dunia Besar dari Semiliar Dunia ini. Ia melewati berlaksa-laksa dunia, masing-masing dengan Gunung Sumeru-nya, empat benua, dan seluruh cincin Pegunungan Besi. Di puncak cincin Pegunungan Besi yang paling ujung, ia masih mendengar suara Sang Buddha. Suaranya persis seperti sebelumnya, tanpa ada perbedaan, seolah-olah dekat dan tidak jauh.
“Sang Buddha berpikir dalam hati, ‘Karena Moggallana ingin menguji jangkauan suara murni dari Sang Tathagata, saya harus mengizinkannya sekarang’. Kemudian Sang Bhagavan membangkitkan kekuatan spiritualnya. Pada saat itu Moggallana menyadari tujuan mulia Sang Buddha dalam melakukan hal tersebut, dan Moggallana menerima kekuatan spiritual dari-Nya, sehingga ia dapat pergi ke sebuah lokasi di arah barat yang jauh lebih jauh lagi. Dengan melakukannya, ia melewati Tanah-Tanah Buddha (Buddhalands) sebanyak butiran pasir di sembilan puluh sembilan Sungai Gangga menuju sebuah sistem-dunia bernama Panji Cahaya (Banner of Light) di mana seorang Buddha bersemayam. Di Tanah Buddha tersebut, seorang Buddha bernama Raja Cahaya, Sang Tathagata, Arhat, Samyaksambuddha , saat itu sedang membabarkan Dharma. Moggallana pergi ke sana dan, di Tanah Buddha tersebut sama seperti sebelumnya, ia mendengar suara Sang Buddha layaknya seseorang yang berdiri mendengarkan kata-kata-Nya tepat di hadapan-Nya.
“Di Tanah Buddha Panji Cahaya, cahayanya sangat terang. Tubuh Buddha dari tanah itu setinggi delapan mil, dan tubuh semua Bodhisattva setinggi empat mil. Mangkuk-mangkuk tempat para Bodhisattva makan tingginya seperlima mil.
“Setelah Moggallana mendarat di atas tepi sebuah mangkuk, semua Bodhisattva bertanya kepada Sang Bhagavan itu, ‘Maha Bijaksana, tolong beritahu kami dari mana datangnya serangga yang mengenakan pakaian biksu Buddha ini, yang hinggap di tepi mangkuk ini.”’
“Lalu Buddha tersebut berkata, ‘Kalian semua para putra keluarga yang baik, berhati-hatilah untuk tidak dengan sengaja tidak sopan terhadap orang yang mulia ini. Mengapa? Nama sesepuh ini adalah Mahā-Moggallana. Di antara semua murid agung Buddha Śākyamuni yang mencapai pencerahan langsung melalui mendengar ajaran-Nya, ia adalah yang paling unggul dalam kekuatan spiritual.’
“Kemudian Buddha Raja Cahaya berkata kepada Mahā-Moggallana, ‘Para Bodhisattva dan semua Pendengar Tercerahkan (Enlightened Hearers) di tanahku melihat bahwa tubuh muliamu kecil dan semuanya menjadi tidak hormat. Jika engkau telah menerima izin mulia dari Buddha Śākyamuni, yang kebajikannya sangat mengagumkan, engkau, yang berwelas asih, hendaknya memperlihatkan kekuatan spiritualmu.’
“Pada waktu itu Mahā-Moggallana pergi ke tempat Buddha Raja Cahaya berada dan bersujud di kaki-Nya. Kemudian, setelah mengelilingi Buddha tersebut searah jarum jam (pradaksina) sebanyak tujuh kali, ia berdiri di depan-Nya dan berkata, ‘Dengan tubuh ini juga saya ingin duduk dalam posisi teratai penuh. Apakah tempat ini cukup besar untuk memuat tubuh saya?’
‘Buddha tersebut menjawab, ‘Apapun yang menyenangkan hatimu.’
“Kemudian Mahā-Moggallana melompat sejauh delapan puluh juta kaki ke angkasa. Di alam yang berharga tersebut, ia lalu menciptakan sebuah dipan dan duduk dengan posisi teratai penuh di atasnya. Dari lokasi itu, sambil duduk di atas dipan, ia menggantungkan sepuluh miliar nayuta kalung mutiara yang berharga dengan beraneka ragam nama. Setiap mutiara dari setiap kalung memancarkan seratus ribu sinar cahaya. Di setiap sinar cahaya terdapat sekuntum bunga teratai. Dan sesosok tubuh Buddha Śākyamuni muncul dan duduk di atas setiap bunga teratai tersebut. Suara mereka terdengar persis seperti suara Śākyamuni. Dengan kejelasan dan kemurnian, mereka membabarkan Sutra-sutra, dengan cara yang persis sama seperti Beliau membabarkannya, tanpa ada perbedaan.
“Kemudian Mahā-Moggallana, setelah selesai menampilkan kekuatan spiritualnya, kembali ke tempatnya di hadapan Buddha tersebut. Pada saat itu, semua Bodhisattva itu memperoleh apa yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Mereka merasa takjub, lalu mereka bertanya kepada Buddha tersebut, ‘Mengapa Mahā-Moggallana datang ke dunia ini?’
“Sang Bhagavan berkata kepada mereka, ‘Ia datang ke tanah ini karena ia ingin menguji seberapa jauh suara Buddha Śākyamuni mengembara.’
“Kemudian Buddha Raja Cahaya berkata kepada Yang Mulia Mahā-Moggallana, “Yang berwelas asih, tidaklah pantas untuk menguji seberapa jauh suara Sang Tathagata, para Arhat, mengembara; suara itu tidak memiliki batas, tidak ada jauh ataupun dekat. Bagaimana mungkin engkau ingin mengetahui batasannya? Engkau, yang terkemuka, sedang melakukan kesalahan yang teramat besar. Moggallana, seandainya engkau, yang berwelas asih, menggunakan kekuatan spiritualmu untuk melewati kalpa-kalpa sebanyak butiran pasir di sungai dan melakukan perjalanan ke arah barat tanpa istirahat, engkau tetap tidak akan dapat mengetahui semua tempat di mana suara Sang Tathagata terdengar. Jangkauan luas suara para Buddha, Sang Tathagata, mutlak melampaui segala batasan. Suara mereka sangat agung dan tak terbatas, serta tidak dapat dipahami bahkan dengan menggunakan analogi.’
“Pada saat itu Mahā-Moggallana bersujud di kaki Sang Bhagavan dan bertobat atas kesalahannya: ‘Ya, Sang Bhagavan, karena saya sendiri tidak cukup cerdas untuk memahami bahwa suara para Buddha tidak memiliki batas, maka sungguh disayangkan saya ingin mengetahui berapa jarak terjauh suara tersebut masih dapat didengar.’
“Buddha Raja Cahaya lalu berkata kepada Moggallana , ‘Meskipun begitu, engkau datang dari tempat yang sangat jauh dan melintasi dunia-dunia Buddha sebanyak pasir di sembilan puluh sembilan sungai untuk dapat tiba di tanah-Buddha ini.’
“Moggallana kembali berbicara kepada Buddha tersebut: ‘Wahai Dewa di atas para dewa, saya telah melakukan perjalanan yang luar biasa jauh, sungguh teramat jauh. Tubuh saya begitu letih sehingga saya tidak bisa kembali ke tanah air saya.’
“Sang Bhagavan berkata kepadanya, ‘Moggallana, apa pendapatmu? Apakah engkau menggunakan kekuatan spiritualmu sendiri untuk sampai ke dunia ini? Janganlah mengambil pandangan tersebut. Engkau berada di sini di dunia ini karena kekuatan kebajikan luar biasa dari Sang Bhagavan Śākyamuni. Dari kejauhan, engkau hendaknya berlindung kepada Buddha Śākyamuni dan menundukkan kepalamu untuk memuja-Nya. Dengan demikian, Buddha tersebut dapat, dengan mengaktifkan niat mulia-Nya, mengembalikanmu, yang berwelas asih, ke tanah airmu. Yang mulia, jika engkau ingin menggunakan kekuatan spiritualmu sendiri untuk kembali ke tanah airmu, bahkan setelah satu kalpa berlalu engkau masih belum akan tiba di sana. Yang mulia, karena engkau tidak akan tiba, engkau tidak akan sempat berada di sana untuk melihat Buddha Śākyamuni memasuki Nirvana. Moggallana, bagaimana menurutmu? Di wilayah mana aku berada: timur, selatan, barat, atau utara?”’
“Moggallana menjawab, ‘Saya tidak tahu berada di wilayah mana. Karena saat ini saya kehilangan orientasi, saya tidak tahu di mana tanah air saya berada atau ke arah mana letaknya.’
“Sang Bhagavan itu berkata kepada Moggallana , ‘Buddha Śākyamuni berada di sebelah timur dari sini.’
“Kemudian Mahā-Moggallana meletakkan lutut kanannya di atas tanah dan mengatupkan kedua telapak tangannya (anjali), berlindung menghadap ke arah timur, ke tempat Buddha Śākyamuni berada. Pada waktu itu ia membacakan syair ini:
‘Beliau yang satu-satunya dihormati oleh dewa maupun manusia, Yang terlihat melimpahkan kekuatan dan pemikiran welas asih-Nya, Yang kekuatan agung kebajikannya mencapai puncaknya yang agung dan mulia; Beliau yang dihormati oleh dewa dan manusia, Yang suaranya melanglang buana tanpa batas, Dan yang kebijaksanaannya tak terhingga; Di tanah-Nyalah aku ingin muncul kembali, Dan oleh karena itu sekarang aku berhasrat untuk kembali ke sana’.”
Vajrapāṇi berkata, “Begitulah adanya, Tekad Tenang, bahwa suara semua Buddha, Para Bhagavan, adalah tanpa batas atau ujung.
“Saat Buddha Śākyamuni sedang berjalan-jalan di puncak Gunung Hering, Śāriputra mendengar suara lantang yang dipancarkan oleh Yang Mulia Mahā-Moggallana dan bertanya-tanya tentang alasannya, namun Yang Mulia Ānanda-lah yang pertama kali bertanya kepada Sang Buddha, ‘Siapakah gerangan yang sekarang memohon perlindungan dengan suara yang begitu lantang, agar ia dapat kembali dari tempat yang begitu jauh?’
“Sang Buddha berkata kepada Ānanda, ‘Mahā-Moggallana telah berada di wilayah Barat selama bertahun-tahun lamanya. Ia melakukan perjalanan melewati tanah-tanah Buddha sebanyak butiran pasir di sembilan puluh sembilan sungai dan mencapai sebuah dunia yang disebut Panji Cahaya. Buddha di tanah tersebut bernama Tathagata Raja Cahaya, seorang Arhat, yang saat ini sedang membabarkan Dharma di sana. Telah bertahun-tahun lamanya sejak Mahā-Moggallana mencapai tanah-Buddha tersebut, dan karena sekarang ia berhasrat untuk kembali ke tanah ini, ia memancarkan suaranya yang kuat dan jernih dari tempat yang jauh itu.’
“Ānanda bertanya lebih lanjut, ‘Mengapa ia pergi ke tanah-Buddha tersebut?’
“Sang Buddha memberi tahu Ānanda, ‘Ketika Mahā-Moggallana tiba, engkau dapat bertanya kepadanya apa niatnya.’
“Kemudian semua orang di persamuan agung berkata kepada Sang Buddha, ’Kami akan sangat gembira jika kami bisa melihat dunia Panji Cahaya dan Buddha Raja Cahaya, Sang Tathagata, seorang Arhat, Yang Tercerahkan Sempurna dan Setara, dan untuk mengamati apa yang sedang Mahā-Moggallana lakukan di tanahnya.’
“Pada waktu itu Sang Bhagavan, melihat bahwa seluruh persamuan mendesak-Nya untuk membantu memenuhi keinginan mereka, memancarkan dari Tanda-Buddha (Buddha-Hallmark) di antara kedua alis-Nya sebuah cahaya agung yang disebut ‘Terlihat oleh Semua’. Cahaya itu menerangi semua dunia-Buddha sebanyak butiran pasir di sembilan puluh sembilan sungai dan menjangkau jauh hingga ke tanah-Buddha Panji Cahaya. Apa yang disinari oleh cahaya agung itu disaksikan oleh seluruh persamuan, sehingga semua orang melihat Raja Cahaya, Buddha dari tanah tersebut, seorang Tathagata, Arhat. Ketika Mahā-Moggallana melihat cahaya itu, ia bersujud menyentuh tanah dan berseru dengan suara lantang.
“Pada waktu itu Sang Bhagavan, Buddha Śākyamuni, menyuruh Yang Mulia Mahā-Moggallana untuk menunggangi cahaya tersebut kembali ke tanahnya sendiri. Lalu, dengan mengandalkan cahaya-Buddha itu, Moggallana, hanya dalam rentang waktu sekilas pikiran, kembali ke tanah ini. Ia bersujud di kaki Sang Buddha dan memutari Beliau searah jarum jam sebanyak tujuh kali. Setelah itu ia berdiri di hadapan Sang Buddha, bertobat, dan memohon perlindungan. Ia kembali mencela dirinya sendiri, berkata, ‘Saya sangat kebingungan. Suara Sang Tathagata tidak memiliki batasan, namun saya ingin menguji jangkauannya. Titik terjauh yang saya capai sungguh amat jauh, akan tetapi suara yang saya dengar di sana sama saja dengan yang sekarang; saya merasakannya seolah-olah dekat dan tidak jauh. Suara Sang Tathagata begitu agung dan jangkauannya tak terbatas.’
“Sang Buddha berkata, ‘Begitulah, Moggallana, tepat seperti yang engkau katakan. Suara Sang Tathagata menjangkau sangat jauh, bahkan melampaui apa yang dapat dipahami oleh analogi. Berharap untuk mengetahui jangkauan suara Sang Tathagata bagaikan ingin membuat batasan-batasan pada ruang hampa. Mengapa? Seperti ruang hampa, yang menyelimuti mana-mana dan tak bertepi, jangkauan dari sabda yang dibabarkan oleh Sang Tathagata tak terbatas cakupannya’.”
Ron Epstein baru-baru ini pensiun dari fakultas Filsafat di San Francisco State University, di mana selama lebih dari tiga puluh tahun ia mengajar mata kuliah mengenai agama Buddha serta filsafat dan agama Asia maupun komparatif. Ia memegang gelar Ph.D. dalam Studi Buddhis (interdisipliner) dari University of California, Berkeley, dan gelar M.A. dalam Bahasa dan Sastra Mandarin dari University of Washington. Publikasi dan terjemahannya yang banyak meliputi Buddhism A to Z yang diterbitkan oleh Buddhist Text Translation Society; The Heart of Prajna Paramita Sutra dengan No-Stand Gatha Explanation dan Prose Commentary dari Guru Tripitaka Gunung Emas, Sramana Hsüan Hua; dan jilid penutup dari bab “Memasuki Alam Dharma” (Entering the Dharma Realm) dari terjemahan Avatamsaka Sutra oleh Buddhist Text Translations Society. Ia adalah kontributor tetap pada jurnal Vajra Bodhi Sea, dan situs web pendidikannya meliputi ‘Resources for the Study of Buddhism,’ dan ‘Resources for the Study of Religion.’


Comments
Post a Comment