Skip to main content

Sejarah Amulet Khun Paen Phrai Kuman Wat Kuan Na Kae - Amulet Yang Berawal dari Penglihatan Gaib

 



Sejarah Amulet Khun Paen Phrai Kuman Wat Kuan Na Kae Amulet Yang Berawal dari Penglihatan Gaib

Ada sebuah kisah mengenai amulet Thailand yang dimulai bukan dari sebuah cetakan, bukan dari seorang kolektor, dan bahkan bukan dari keinginan membuat amulet.

Kisahnya dimulai dari sebuah nimit / pengilihatan gaib.

Pada tahun 2506 BE, seorang guru spiritual bernama Pho Than Saeng dari Wat Khlong Nam Chet mendapatkan sebuah penglihatan spiritual. Dalam nimit tersebut, beliau mengetahui bahwa dalam waktu tujuh hari akan ditemukan jasad seorang anak kecil yang hanyut terbawa air dan tiba di sekitar vihara.

Tujuh hari kemudian, sesuatu yang sangat ganjil benar-benar terjadi.

Sebuah jasad bayi laki-laki ditemukan tersangkut pada akar pohon Sai di belakang Wat Khlong Nam Chet. Apa yang sebelumnya hanya muncul sebagai sebuah nimit ternyata benar-benar terjadi. Dan dari peristiwa inilah bermula salah satu kisah paling misterius mengenai Khun Paen Phrai Kuman dari Wat Kuan Na Kae.

Bagi sebagian orang, benda ini mungkin hanya terlihat seperti sebuah Khun Paen tua. Namun bagi mereka yang mengetahui asal-usulnya, ceritanya jauh lebih dalam.

Karena sebelum menjadi sebuah amulet, benda ini terlebih dahulu memiliki sebuah kisah tentang nimit, ritual Phrai Kumarn, tanah pemakaman, berbagai tanaman spiritual, mantra dan ritual pemberkatan selama tiga hari tiga malam.

Dan justru di situlah daya tarik sebenarnya dari Khun Paen Wat Kuan Na Kae.


Semuanya Bermula dari Sebuah Nimit

Dalam tradisi spiritual Thailand, istilah nimit merujuk pada sebuah pertanda, penglihatan atau pengalaman spiritual yang dianggap memberikan petunjuk mengenai sesuatu yang akan terjadi.

Pho Than Saeng mengalami nimit tersebut pada tahun 2506 BE. Dalam penglihatan itu, beliau mengetahui bahwa akan datang jasad seorang anak kecil. Bukan dalam waktu berbulan-bulan.

Bukan tahun depan.

Tetapi dalam waktu tujuh hari.

Kemudian tujuh hari berlalu.

Di belakang Wat Khlong Nam Chet, sebuah jasad bayi laki-laki ditemukan terbawa air dan tersangkut pada akar pohon Sai. Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan mengenai asal-usul Phrai Kuman Thep Nimit.

Pho Than Saeng kemudian meminta bantuan Pho Than Chuean dari Wat Kuan Na Kae, seorang guru yang dikenal memiliki pengetahuan wicha. Dari sinilah sebuah ritual khusus dilakukan.

Tujuannya bukan sekadar membuat sebuah benda.

Mereka hendak menciptakan sebuah Phrai Kuman  melalui tata cara spiritual yang diwariskan dalam tradisi guru-guru sebelumnya.

Dari proses tersebut kemudian lahirlah apa yang dikenal sebagai Phong Phrai Kuman  Thep Nimit.

Nama tersebut sendiri sudah cukup untuk menggambarkan karakter benda ini.

Ada unsur Phray Kumarn.

Ada unsur Thep.

Dan ada unsur Nimit.

Dengan kata lain, sejak awal keberadaannya, benda spiritual ini sudah terhubung dengan sebuah pertanda yang dianggap nyata oleh para guru yang terlibat dalam kisahnya.

Ketika Phrai Kuman Menjadi Bagian dari Sebuah Khun Paen

Di sinilah ceritanya menjadi semakin menarik.

Phrai Kuman  biasanya sudah memiliki karakter spiritual tersendiri dalam tradisi amulet Thailand.

Tetapi pada Wat Kuan Na Kae, unsur tersebut kemudian dipadukan dengan bentuk Khun Paen.

Khun Paen sendiri sangat dikenal dalam dunia amulet Thailand karena dikaitkan dengan Metta Mahaniyom, Maha Sanaeh, karisma, daya tarik, hubungan sosial dan kelancaran dalam perdagangan. Ketika karakter Khun Paen tersebut bertemu dengan tradisi Phrai Kuman, lahirlah sebuah kombinasi yang bagi sebagian kolektor dianggap sangat menarik.

Bukan hanya tentang daya tarik.

Bukan hanya tentang pengasihan.

Tetapi juga tentang perlindungan, firasat dan konsep pendamping spiritual.

Karena itu, orang yang memahami amulet ini biasanya tidak melihatnya sebagai “Khun Paen biasa”.

Ada sesuatu yang lain di baliknya.

Dan sesuatu itu berasal dari Phrai Kuman  Thep Nimit.


Powder yang Tidak Dibuat Secara Sembarangan

Untuk membuat amulet tersebut, digunakan berbagai jenis powder yang berasal dari tradisi wicha Thailand.

Di antaranya terdapat Ittaje, Pathamang, Maharaj, Phutthakhun dan Trinisingshe.

Powder tersebut kemudian dikombinasikan dengan berbagai bahan spiritual lainnya.

Dan daftar materialnya membuat cerita ini semakin menarik.

Salah satu yang paling terkenal adalah Din Chet Pa Cha, yaitu tanah yang dikaitkan dengan tujuh pemakaman.

Kemudian terdapat pula bahan yang dikenal sebagai Chet Pluak, tujuh sarang rayap.

Ada pula bahan yang berkaitan dengan tujuh kawasan air dan berbagai lokasi yang memiliki asosiasi spiritual. Angka tujuh muncul berulang kali dalam proses pembuatannya. Dan bagi tradisi wicha Thailand, hal seperti ini tentu bukan sekadar soal mencampurkan bahan secara acak.

Setiap bahan memiliki fungsi dan simbolismenya sendiri.





Lebih dari 500 Jenis Wan

Tetapi tanah pemakaman bukan satu-satunya material yang membuat amulet ini terkenal.

Dalam riwayat pembuatan generasi pertama, disebutkan penggunaan lebih dari 500 jenis wan, yaitu tanaman dan bahan herbal yang digunakan dalam tradisi spiritual.

Sebagian material disebut berasal dari kawasan Khao Tachi. Ada pula material yang berasal dari situs-situs kuno di wilayah Trang, Phatthalung dan Chaiya.

Terdapat material dari Wat Chang Hai, material dari Wat Tani Samoson, abu dupa dari berbagai tempat sakral, serta material yang dikaitkan dengan kawasan Doi Suthep dan Hariphunchai.

Jika semua itu dikumpulkan, kita bisa membayangkan betapa kompleksnya proses persiapannya.

Bahan dari berbagai tempat dibawa.

Diproses.

Dihancurkan.

Dicampurkan.

Kemudian dimasukkan ke dalam rangkaian ritual.

Jadi ketika seseorang memegang sebuah Khun Paen Phrai Kuman Wat Kuan Na Kae, yang ada di tangannya bukan hanya tanah atau powder yang dicetak menjadi bentuk Khun Paen.

Dalam tradisinya, ia merupakan hasil dari berbagai material yang dikumpulkan dari banyak lokasi dan kemudian dipersatukan melalui ritual.

Tiga Hari Tiga Malam

Setelah semua material dipersiapkan, tibalah tahap yang sangat penting.

Phutthaphisek.

Ritual pemberkatan dilakukan selama tiga hari tiga malam, pada tanggal 26, 27 dan 28 Maret 2506 BE.

Dan ritual ini bukan ritual kecil.

Berbagai guru spiritual dari sejumlah jalur datang untuk ikut memberkati amulet tersebut.

Di antara nama yang disebut dalam riwayatnya adalah Luang Pu Nak dari Wat Rakhang, Ajarn Tim dari Wat Chang Hai, Ajarn Khong dari Wat Ban Suan, Ajarn Rod dari Wat Pradu Phatthanaram, Ajarn Kling dari Wat Sri Wuwannaram, Pho Than Saeng dari Wat Khlong Nam Chet, Ajarn Mun dari Wat Khao Daeng Ok dan Ajarn Nam dari Wat Don Sala.

Dengan hadirnya para guru tersebut, ritual Khun Paen Wat Kuan Na Kae menjadi pertemuan berbagai jalur wicha.

Ada jalur dari Trang.

Ada jalur dari Phatthalung.

Ada jalur dari Pattani.

Ada jalur dari Bangkok.

Dan ada hubungan dengan tradisi Khao Or, salah satu jalur wicha terkenal dari Thailand Selatan.

Bayangkan suasananya.

Selama tiga hari tiga malam, amulet yang sudah dibuat dari berbagai powder dan material spiritual tersebut berada di tengah ritual.

Mantra dibacakan.

Yantra diberkati.

Meditasi dilakukan.

Dan para guru mengarahkan pengetahuan serta kekuatan spiritual mereka kepada amulet.

Inilah salah satu alasan mengapa generasi pertama tahun 2506 BE memiliki tempat tersendiri dalam dunia kolektor.


Kenapa Khun Paen Ini Dianggap “Raeng”?

Dalam bahasa kolektor Thailand, ada sebuah istilah yang sering digunakan untuk benda spiritual yang dianggap memiliki karakter kuat:

Raeng.

Ketika seseorang mengatakan sebuah amulet itu raeng, maksudnya bukan hanya “kuat” dalam arti perlindungan. Kadang yang dimaksud adalah amulet tersebut terasa memiliki karakter.

Responsnya terasa cepat.

Penggunanya mengalami pengalaman yang tidak biasa.

Atau muncul firasat dan tanda-tanda tertentu.

Khun Paen Phrai Kuman Wat Kuan Na Kae dikenal memiliki reputasi seperti itu di kalangan sebagian pengguna dan kolektor.

Aspek yang paling sering dikaitkan dengannya adalah Metta Mahaniyom dan Maha Sanaeh.

Tetapi di luar itu, terdapat pula cerita mengenai perlindungan, Klaew Klaad, Kongkraphan dan firasat.

Beberapa sumber Thai mengenai pengalaman pengguna bahkan menyebut adanya pengalaman seperti mendapatkan pertanda atau mengetahui sesuatu sebelum kejadian tertentu berlangsung.

Tentu saja pengalaman setiap orang berbeda.

Namun justru cerita-cerita seperti inilah yang membuat nama amulet ini terus dibicarakan.

Phrai Kuman yang Tidak Boleh Dipandang Sebagai Mainan

Ada satu hal yang menarik dalam tradisi Phray Kumarn.

Ia bukan sekadar konsep “roh anak yang membantu pemilik mendapatkan apa yang diinginkan”.

Dalam tradisi spiritual Thailand, hubungan dengan Phray Kumarn memiliki aturan dan etika tersendiri.

Pemilik diharapkan menghormatinya.

Menjaga perilaku.

Menjaga ucapan.

Dan tidak memperlakukannya seperti benda mainan.

Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa cerita mengenai amulet jenis ini terasa berbeda dibandingkan amulet biasa.

Ketika seseorang memakai sebuah Phra Buddha, fokusnya terutama pada Buddha, Dhamma dan Sangha.

Tetapi ketika membawa sebuah amulet yang memiliki tradisi Phray Kumarn, terdapat tambahan konsep mengenai pendamping spiritual.

Itulah yang membuat sebagian orang merasa lebih dekat secara personal dengan amulet semacam ini.

Dan bagi orang yang mempercayai tradisi tersebut, hubungan antara pemilik dan amulet bukan hanya sekadar membawa benda di leher.


Bukan Sekadar Amulet Pengasihan

Banyak orang mendengar kata Khun Paen, lalu langsung berpikir tentang wanita, cinta dan pengasihan.

Padahal Khun Paen Wat Kuan Na Kae memiliki spektrum yang lebih luas.

Dalam tradisi kolektor, ia dikaitkan dengan Metta Mahaniyom, yaitu daya tarik dan kemudahan dalam hubungan dengan orang lain.

Ada pula Maha Sanaeh, yang berkaitan dengan karisma dan daya pikat.

Kemudian Maha Lap, kelancaran dan keberuntungan.

Untuk mereka yang bekerja dalam perdagangan atau pekerjaan yang banyak berhubungan dengan orang lain, karakter seperti ini tentu sangat menarik.

Bayangkan seorang pedagang yang setiap hari harus bertemu puluhan pelanggan.

Seorang sales yang harus melakukan negosiasi.

Seorang pengusaha yang harus membangun hubungan.

Atau seseorang yang pekerjaannya sangat bergantung pada kemampuan berkomunikasi dan mendapatkan kepercayaan orang lain.

Di sinilah karakter Khun Paen menjadi menarik.

Dan ketika unsur Phray Kumarn ditambahkan, muncullah lapisan lain:

firasat dan pendamping spiritual.


Khun Paen Phrai Kuman Wat Kuan Na Kae Generasi Kedua BE 2550 - Penyempurnaan dari Generasi Pertama

Dan kali ini saya ingin memperkenalkan Khun Paen Generasi kedua, tentunya dengan banyak "additional blessings and material" dari para guru ternama di era ini

Hampir lima puluh tahun kemudian, generasi kedua dibuat.

Bukan sekadar Khun Paen dengan nama yang sama.

Generasi kedua tahun 2550 BE justru menarik karena dalam pembuatannya digunakan powder Phrai Kuman dari generasi pertama, kemudian dipadukan dengan berbagai jenis wan baru dan menjalani rangkaian ritual pemberkatan.

Dengan kata lain, generasi kedua bukanlah cerita yang terpisah.

Ia adalah kelanjutan dari sebuah tradisi yang sudah dimulai puluhan tahun sebelumnya.

Dan bagi mereka yang menyukai amulet dengan cerita mistis, justru di sinilah daya tarik sebenarnya berada.

HAMPIR LIMA PULUH TAHUN SETELAH GENERASI PERTAMA

Untuk memahami mengapa generasi kedua menarik, kita harus kembali sebentar ke tahun 2506 BE.

Pada masa itu, Wat Kuan Na Kae menjadi tempat lahirnya sebuah Khun Paen yang memiliki kisah tidak biasa. Generasi pertama dikaitkan dengan Phong Phrai Kuman Thep Nimit, yang lahir dari sebuah rangkaian ritual dan kisah nimit yang sangat terkenal dalam tradisi setempat.Material yang digunakan juga bukan material biasa.

Berbagai powder wicha, wan, material dari tempat-tempat sakral dan bahan-bahan yang memiliki makna khusus dikumpulkan untuk membuat amulet tersebut. Kemudian dilakukan ritual besar selama tiga hari tiga malam.

Nama-nama guru spiritual dari berbagai jalur turut hadir dalam pemberkatan.

Khun Paen tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah amulet Trang.

Puluhan tahun berlalu. Para guru dari generasi lama mulai meninggalkan dunia. Tetapi warisan yang mereka tinggalkan tidak semuanya hilang. Sebagian material lama masih tersimpan. Dan pada tahun 2550 BE, material tersebut kembali digunakan.

DI SINILAH GENERASI KEDUA MENJADI BERBEDA

Generasi kedua Wat Kuan Na Kae dibuat dalam rangka Rong Buran, yaitu proyek yang berkaitan dengan pemugaran dan pembangunan fasilitas di Wat Kuan Na Kae. Namun yang membuatnya menarik bagi kolektor bukan hanya tujuan pembuatannya. Yang paling penting justru adalah material lama yang digunakan kembali. Dalam riwayat generasi kedua, disebutkan bahwa powder Phrai Kuman dari generasi pertama 2506 BE digunakan sebagai bagian dari material pembuatan generasi baru.

Powder yang berasal dari generasi pertama kemudian masuk kembali ke dalam proses pembuatan generasi kedua.  Jadi generasi kedua bukan sekadar mengambil nama besar generasi pertama, bagi kolektor, detail ini sangat penting.

Karena ada perbedaan besar antara “dibuat dengan mengikuti tradisi lama” dan “dibuat dengan menggunakan sebagian material lama dari generasi tersebut”. Di sinilah generasi kedua mempunyai cerita tersendiri.

WARISAN LAMA BERTEMU MATERIAL BARU

Tetapi tentu saja generasi kedua tidak hanya menggunakan powder lama. Dalam pembuatannya juga dikumpulkan lebih dari 200 jenis Maha Wan dari kawasan Pegunungan Banthat. Berbagai wan tersebut kemudian diproses dan digunakan sebagai bagian dari material generasi baru. Jadi ada dua dunia yang bertemu.  Di satu sisi terdapat powder Phrai Kuman lama dari generasi pertama.Di sisi lain terdapat lebih dari 200 jenis wan baru dari kawasan Banthat.

Yang satu berasal dari masa lalu. Yang satu dikumpulkan untuk generasi baru.Kemudian keduanya dipersatukan dalam satu Khun Paen. Secara simbolis, inilah yang membuat generasi kedua terasa seperti sebuah jembatan. Warisan lama tidak ditinggalkan, tetapi dibawa masuk ke generasi baru.

LIMA RANGKAIAN RITUAL

Setelah seluruh material dipersiapkan, prosesnya tidak berhenti pada pencetakan. Generasi kedua menjalani rangkaian ritual yang cukup panjang. Dalam riwayat yang beredar di kalangan kolektor, terdapat lima rangkaian pemberkatan.

  • Salah satunya dilakukan di kawasan laut Pak Phanang.
  • Kemudian dilanjutkan dengan ritual di Lak Mueang Nakhon Si Thammarat.
  • Setelah itu, rangkaian ritual kembali dilaksanakan di Wat Kuan Na Kae.

Ini menarik karena ritualnya tidak hanya berpusat di satu lokasi. Amulet dibawa melalui beberapa tempat sebelum kembali ke vihara yang menjadi pusat pembuatannya. Bagi orang yang memahami tradisi wicha Thailand Selatan, lokasi bukan sekadar lokasi. Setiap tempat memiliki sejarah, guru, tradisi dan konteks spiritualnya sendiri. Karena itu, perjalanan ritual seperti ini menjadi bagian penting dari cerita generasi kedua.

KEMUDIAN DATANG RITUAL BESARNYA

Puncak dari proses tersebut adalah rangkaian Phutthaphisek selama tiga hari tiga malam. Dalam ritual tersebut, sejumlah guru spiritual dari Thailand Selatan turut hadir memberikan blessing.

Nama-nama yang disebut dalam riwayat generasi ini antara lain Pho Than Uem dari Wat Bang Nian, Pho Than Kaew dari Wat Tha Samphao Tai dan Pho Than Khiao dari Wat Huai Ngo.

Kemudian terdapat pula guru dari jalur lain seperti Phra Ajarn Prasut dari Wat Nai Tao dan Phra Ajarn Huan dari Wat Khok Lo, serta guru-guru yang berkaitan dengan tradisi Khao Or.

Bagi kolektor amulet Thailand Selatan, nama-nama seperti ini tentu memberikan warna tersendiri. Karena generasi kedua bukan hanya membawa material lama. Ia juga mendapatkan ritual baru dan blessing baru. Jadi material lama dan ritual baru bertemu dalam satu amulet.

ADA TAKRUT YANG IKUT MASUK KE DALAM RANGKAIAN RITUAL

Salah satu detail yang juga menarik dalam riwayat generasi kedua adalah keterlibatan Ajarn Od dari Wat Sai Mai, yang disebut memberikan 500 Takrut untuk digunakan dalam rangkaian acara. Detail seperti ini memperlihatkan besarnya persiapan ritual generasi kedua.

Ada powder lama. Ada wan baru. Ada material dari berbagai sumber. Ada Takrut. Ada guru-guru dari berbagai jalur. Dan semuanya kemudian dikumpulkan dalam sebuah rangkaian ritual besar. Bagi sebuah amulet, proses seperti ini tentu membuat cerita pembuatannya menjadi jauh lebih menarik.

DAN DI SINILAH SISI GAIBNYA MENJADI MENARIK

Bagi orang yang hanya melihat bentuk fisiknya, tentu semuanya hanya terlihat sebagai powder yang dicetak menjadi sebuah Khun Paen. Tetapi bagi orang yang memahami tradisi Phrai Kuman, ceritanya jauh berbeda. Karena yang menarik bukan hanya bentuknya.  Yang menarik adalah apa yang dipercaya ikut diwariskan bersama material tersebut. Dalam tradisi spiritual, material yang telah melalui ritual panjang sering kali dipandang bukan lagi sekadar benda mentah. Ia menjadi bagian dari warisan wicha.

KARAKTER YANG DICARI PARA PENGGUNA KHUN PAEN

Secara tradisional, Khun Paen dikenal dengan karakter yang sangat kuat dalam hal Metta Mahaniyom dan Maha Sanaeh. Itulah sebabnya Khun Paen sejak dahulu banyak digunakan oleh orang yang bekerja dengan manusia.

  • Pedagang.
  • Pengusaha.
  • Sales.
  • Orang yang sering bernegosiasi.
  • Orang yang pekerjaannya bergantung pada komunikasi.

Karena dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan membuat orang merasa nyaman dan percaya kepada kita sering kali sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Dalam tradisi kolektor, Khun Paen juga sering dikaitkan dengan Maha Lap, keberuntungan dan kelancaran dalam mencari rezeki.

Mungkin itulah alasan mengapa kisah amulet ini tetap menarik setelah puluhan tahun

Bukan semata-mata karena bentuknya. Bukan semata-mata karena usianya. Dan bukan semata-mata karena namanya. Tetapi karena ada sebuah cerita di belakangnya. Cerita tentang seorang guru yang mendapatkan nimit.

  • Tentang tujuh hari yang kemudian menjadi kenyataan.
  • Tentang jasad seorang anak yang ditemukan hanyut di belakang vihara.
  • Tentang ritual Phray Kumarn.
  • Tentang powder yang dibuat melalui wicha.
  • Tentang tanah dari tujuh pemakaman.
  • Tentang ratusan jenis wan.
  • Tentang mantra dan yantra.

Dan akhirnya tentang tiga malam ketika para guru spiritual berkumpul untuk memberkati amulet tersebut. Mungkin bagi seseorang yang tidak mengenal tradisi spiritual Thailand, semua ini terdengar seperti legenda. Tetapi bagi kolektor yang memahami dunia Phrai Kuman, justru di sinilah letak daya tariknya. Karena Khun Paen ini adalah sebuah amulet yang memiliki cerita tak biasa

Comments

Popular posts from this blog

Riwayat Hidup Luang Phor Thuad Wat Chang Hai yang Legendaris

LUANG PU TUAD Kisah Hidup LP Tuad Wat Chang Hai / Somdet Chao Phakho  Luang Pu Tuad adalah salah satu guru spiritual paling terkenal dalam tradisi Thailand Selatan. Kisah hidupnya dimulai dari seorang anak sederhana bernama Pu di wilayah Sathing Phra, Songkhla, yang sejak bayi dipercaya telah menunjukkan tanda-tanda luar biasa, kemudian tumbuh menjadi samanera dan bhikkhu yang sangat terpelajar, melakukan perjalanan hingga Ayutthaya, memperoleh penghormatan dari kerajaan, kembali ke tanah kelahirannya sebagai Somdet Chao Phakho, dan pada akhirnya dikenang sebagai Luang Pu Tuad Yiap Nam Thale Jued, sosok yang dipercaya mampu mengubah air laut menjadi air tawar. BAGIAN I ANAK YANG DILINDUNGI ULAR Kelahiran seorang anak bernama Pu Pada masa Kerajaan Ayutthaya, di sebuah daerah pedesaan di kawasan Sathing Phra, Provinsi Songkhla, hiduplah sepasang suami istri sederhana bernama Nai Hu dan Nang Chan. Mereka tinggal di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Ban Suan Chan, tidak jauh dari wil...

Kisah Indra Keenam (Mata Dewa) Luangpu Hong

KEMAMPUAN INDRA KEENAM LUANG PU HONG KISAH NYATA MATA BATIN DAN PENGALAMAN SPIRITUAL Mengenai kemampuan mata batin atau indra keenam dari Luang Pu Hong Phrompanyo, beliau pernah menceritakan bahwa dirinya sudah bisa melihat hal-hal yang tidak kasatmata sejak masih anak-anak. Beliau menuturkan, sewaktu kecil jika berjalan pulang melewati kuburan desa, beliau terpaksa harus memalingkan wajah ke arah lain agar tidak melihat ke sana. Sebab, sosok-sosok tak kasatmata terlihat berdiri memenuhi area pemakaman tersebut. Tentu saja hal itu merupakan kisah masa lalu yang didengar para murid dengan rasa hormat yang mendalam. Namun, berikut adalah dua peristiwa nyata yang disaksikan langsung oleh para saksi mata dan menjadi bukti ketajaman mata batin beliau. KISAH I: ARWAH YANG TERJEBAK DI DALAM PENJARA Bantuan untuk Arwah Ayah Peristiwa ini terjadi di Wat Nok (Soi Phanit Thon). Pihak vihara mengundang Luang Pu Hong agar umat setempat berkesempatan berdana dan berbuat kebajikan bersama beliau. Set...

Sejarah, Effect dan Mantra Nang Kwak + LP Hong Nang Kwak Amulet [Buddhist Amulet]

Nang Kwak - Lady Luck Nang Kwak sang Dewi Legendaris dipuja sebagai Dewi Rejeki atau pelindung para pedagang. Nang Kwak adalah salah satu Legenda terpouler Thailand yang sudah ada sejak Buddhisme belum menjamah Thailand. Dengan posisi tangan melambai yang seolah memanggil / mengundang Nang Kwak kadang disebut "Dewi Pengundang" baik itu keberuntungan maupun reheki untuk datang kepada umat / si pedagang yang berdoa memujanya. Dewi Nang Kwak secara khusus dipuja untuk mengundang keberuntungan dan kekayaan baik itu kepada toko maupun rumah tangga yang memujanya. Dewi Nang Kwak biasa tampil dengan mengenakan kostum tradisional Thailand . pada tangan kirinya terdapat sebuah kantong uang yang merupakan simbol rejeki yang dikumpulkan dan tangan kanan diangkat dan melambai ke arah depan memanggil pelanggan untuk datang ke toko . dan keberuntungan untuk menghampirinya. Dewi Nang Kwak juga digambarkan dengan mengenakan Mahkota Emas dan duduk dengan posisi bersimpuh. ...