KEMAMPUAN INDRA KEENAM LUANG PU HONG
KISAH NYATA MATA BATIN DAN PENGALAMAN SPIRITUAL
Mengenai kemampuan mata batin atau indra keenam dari Luang Pu Hong Phrompanyo, beliau pernah menceritakan bahwa dirinya sudah bisa melihat hal-hal yang tidak kasatmata sejak masih anak-anak. Beliau menuturkan, sewaktu kecil jika berjalan pulang melewati kuburan desa, beliau terpaksa harus memalingkan wajah ke arah lain agar tidak melihat ke sana. Sebab, sosok-sosok tak kasatmata terlihat berdiri memenuhi area pemakaman tersebut.
Tentu saja hal itu merupakan kisah masa lalu yang didengar para murid dengan rasa hormat yang mendalam. Namun, berikut adalah dua peristiwa nyata yang disaksikan langsung oleh para saksi mata dan menjadi bukti ketajaman mata batin beliau.
KISAH I: ARWAH YANG TERJEBAK DI DALAM PENJARA
Bantuan untuk Arwah Ayah
Peristiwa ini terjadi di Wat Nok (Soi Phanit Thon). Pihak vihara mengundang Luang Pu Hong agar umat setempat berkesempatan berdana dan berbuat kebajikan bersama beliau.
Setelah tiba di vihara, pihak panitia menyediakan tempat bagi beliau untuk beristirahat. Tak lama kemudian, ada seorang pria yang menelepon ke pihak vihara. Ia membaca pengumuman tentang kedatangan Luang Pu Hong dan berniat memohon pertolongan spiritual.
Pria tersebut menceritakan bahwa ayahnya meninggal dunia saat sedang menjalani hukuman di dalam penjara. Pihak keluarga sebenarnya sudah melaksanakan seluruh upacara keagamaan dan pelimpahan jasa pemakaman secara lengkap. Namun, sang ayah terus datang ke dalam mimpi sanak keluarga dan berpesan bahwa arwahnya masih terjebak, tidak bisa keluar dari penjara.
Pria itu kemudian memohon petunjuk kepada Luang Pu Hong. Melalui perantara, Luang Pu berpesan:
- Ambillah segenggam tanah tepat dari lokasi ayahnya meninggal di dalam penjara.
- Undang bhikkhu untuk membacakan doa pelimpahan jasa di atas tanah tersebut.
- Bawalah tanah itu ke Wat Nok untuk diserahkan kepada Luang Pu Hong.
"Dia Datang, Ayahnya Ikut Bersamanya"
Ketika tiba sesi penerimaan umat, antrean orang yang ingin memberi penghormatan kepada Luang Pu Hong mengular sangat panjang. Salah seorang murid yang duduk di samping beliau bertugas menerima bunga persembahan dari para umat.
Tiba-tiba, di tengah keramaian tersebut, Luang Pu Hong berucap secara spontan:
"Nah, orangnya sudah datang. Ayahnya juga ikut bersamanya. Kemalangannya sudah berakhir."
Sang murid sempat merasa bingung sejenak mendengar ucapan tersebut. Namun, ketika ia menoleh ke arah antrean, ia melihat seorang pria paruh baya memegang kantong kertas sedang berjalan maju untuk bersujud di hadapan Luang Pu Hong.
Setelah bersujud, pria tersebut mengeluarkan bungkusan dari kantong kertasnya dan mempersembahkannya kepada Luang Pu. Pria itu lalu menjelaskan bahwa dialah penelepon yang meminta bantuan karena arwah ayahnya terjebak di penjara, dan ia telah melaksanakan semua instruksi ritual tanah tersebut. Luang Pu Hong tersenyum dan menegaskan kembali kepadanya bahwa sang ayah kini telah bebas dari ikatan penjara tersebut. Pria itu pun berpamitan dengan penuh rasa syukur.
Mendengar hal itu, sang murid langsung merinding sekujur tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sensasi itu bukan karena rasa takut, melainkan takjub akan ketepatan penglihatan batin Luang Pu Hong yang sudah melihat kedatangan sosok arwah sang ayah jauh sebelum pria tersebut memperkenalkan diri di hadapan beliau.
KISAH II: MAHA UPACARA DI DEVASTHAN (KUIL BRAHMANA BANGKOK)
Peristiwa kedua ini terjadi di hadapan para tokoh terkemuka dan pemuka agama kerajaan di Devasthan (Kuil Brahmana Bangkok).
Kala itu, pihak kuil Brahmana membuat benda spiritual dari pecahan genteng atap kuil suci mereka yang terdiri dari Kuil Phra Isuan (Dewa Siwa), Kuil Phra Narai (Dewa Wisnu), dan Kuil Phra Phikhanesuan (Dewa Ganesha). Bahan-bahan tersebut ditumbuk, dibentuk, lalu diberkahi dalam Upacara Maha Phutthaphisek dan Devaphisek yang sangat megah.
Upacara tersebut dipimpin langsung oleh para Brahmana Kerajaan (Phram Luang), para bangsawan, serta keturunan garis Brahmana tingkat tinggi yang menjalankan tradisi secara sangat ketat.
Runtuhnya Tumpukan Genteng Kuil
Luang Pu Hong diundang hadir untuk turut serta memberkati upacara agung tersebut. Beliau duduk bermeditasi dan melafalkan doa secara penuh tanpa jeda selama dua hingga tiga jam berturut-turut.
Mendekati akhir upacara, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras seperti runtuhan dari arah pelataran kuil Ganesha. Belakangan diketahui bahwa tumpukan genteng atap cadangan yang rencananya akan dipasang di sana roboh secara misterius. Namun, prosesi ritual tetap dilanjutkan hingga rampung.
Penjelasan Batin Luang Pu Hong
Seusai acara, saat Luang Pu Hong beristirahat di kediaman salah seorang muridnya, beliau mengungkapkan fakta gaib di balik upacara tersebut:
- Dewa Siwa hadir secara langsung dalam wujud raksasa setinggi 88 Sok (sekitar 44 meter) berdiri melangkahi area bangunan kuil.
- Di dalam aula kuil, para dewa-dewi (Devata) berkumpul sangat padat membagikan berkah.
- Di luar area kuil, berkumpul para guru spiritual berwujud para bhikkhu suci yang mengepung bangunan tempat doa.
Namun, para arwah guru bhikkhu tersebut tidak dapat melangkah masuk ke dalam bangunan kuil. Alasannya, teks deklarasi mantra pemanggilan gaib yang dibacakan oleh pemimpin upacara Brahmana (Phra Ratchakhru Vamadevamuni) hanya mengundang para Dewa, tanpa menyebutkan undangan bagi Sangha atau para guru bhikkhu.
Para guru bhikkhu suci tersebut hadir murni karena ditarik oleh kekuatan tekad doa para Bhikkhu Guru yang diundang memberkati upacara. Sebagai tanda bahwa mereka benar-benar hadir dan memberikan perlindungan di luar gedung, mereka membuat tumpukan genteng atap di luar aula runtuh.
Konfirmasi dari Pemimpin Brahmana Kerajaan
Beberapa hari setelahnya, para murid kembali mendatangi Kuil Brahmana dan menceritakan apa yang dilihat oleh Luang Pu Hong kepada sang Phra Ratchakhru (pemimpin kuil Brahmana). Sang Phra Ratchakhru tertegun dan membenarkan bahwa dalam teks pembacaan mantra, ia memang murni mengundang para Dewata tanpa menyertakan bait pemanggilan guru-guru Sangha.
Kejadian tersebut membuktikan akurasi penglihatan spiritual Luang Pu Hong kepada kalangan pemuka Brahmana istana.
Pada kesempatan berikutnya, ketika Kuil Brahmana menggelar upacara pembuatan patung emas Phra Trimurti untuk dipersembahkan kepada Raja Thailand, pihak kuil kembali mengundang Luang Pu Hong secara khusus. Setibanya beliau di lokasi, sang Phra Ratchakhru langsung menghampiri dan berkonsultasi secara mendalam untuk memastikan apakah susunan ritual kali ini sudah benar dan sempurna. Luang Pu Hong memeriksa sejenak tatanan spiritual upacara tersebut, lalu tersenyum dan mengonfirmasi bahwa semuanya telah tertata dengan benar.
Comments
Post a Comment