LUANG PU TUAD
Kisah Hidup LP Tuad Wat Chang Hai / Somdet Chao Phakho
Luang Pu Tuad adalah salah satu guru spiritual paling terkenal dalam tradisi Thailand Selatan. Kisah hidupnya dimulai dari seorang anak sederhana bernama Pu di wilayah Sathing Phra, Songkhla, yang sejak bayi dipercaya telah menunjukkan tanda-tanda luar biasa, kemudian tumbuh menjadi samanera dan bhikkhu yang sangat terpelajar, melakukan perjalanan hingga Ayutthaya, memperoleh penghormatan dari kerajaan, kembali ke tanah kelahirannya sebagai Somdet Chao Phakho, dan pada akhirnya dikenang sebagai Luang Pu Tuad Yiap Nam Thale Jued, sosok yang dipercaya mampu mengubah air laut menjadi air tawar.
BAGIAN I
ANAK YANG DILINDUNGI ULAR
Kelahiran seorang anak bernama Pu
Pada masa Kerajaan Ayutthaya, di sebuah daerah pedesaan di kawasan Sathing Phra, Provinsi Songkhla, hiduplah sepasang suami istri sederhana bernama Nai Hu dan Nang Chan.
Mereka tinggal di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Ban Suan Chan, tidak jauh dari wilayah yang kemudian memiliki hubungan erat dengan Wat Phakho.
Kehidupan mereka tidak mudah.
Nai Hu dan Nang Chan bekerja sebagai petani dan berada dalam kondisi sebagai pekerja yang memiliki utang kepada seorang saudagar kaya bernama Setthi Pan.
Pada sekitar tahun 2125 BE atau 1582 Masehi, lahirlah seorang anak laki-laki.
Anak itu diberi nama Pu.
Tidak ada yang mengetahui pada saat itu bahwa anak kecil tersebut kelak akan menjadi salah satu tokoh spiritual paling terkenal dalam sejarah Thailand Selatan.
Namun sejak masih bayi, berbagai kejadian luar biasa mulai menyertai kehidupannya.
Bayi di tengah sawah
Pada suatu musim panen, Nai Hu dan Nang Chan harus bekerja di sawah milik Setthi Pan.
Sawah tersebut cukup jauh dari rumah mereka.
Karena masih memiliki bayi yang sangat kecil, mereka membawa Pu ke sawah.
Agar dapat bekerja dengan tenang, mereka membuat sebuah buaian dari kain dan menggantungkannya pada dua batang pohon.
Bayi Pu kemudian ditidurkan di dalam buaian tersebut.
Kedua orang tuanya melanjutkan pekerjaan tidak jauh dari tempat itu.
Beberapa waktu kemudian, Nang Chan merasa waktunya untuk menyusui anaknya.
Ia berjalan kembali menuju buaian.
Namun ketika mendekat, ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya seketika membeku.
Seekor ular kobra raksasa sedang melingkari buaian bayi Pu.
Ular tersebut begitu besar sehingga tubuhnya mengelilingi buaian.
Nang Chan ketakutan.
Ia memanggil suaminya.
Nai Hu segera datang.
Keduanya mencoba mengusir ular tersebut, tetapi ular itu tidak bergerak.
Ia tidak menyerang.
Ia hanya melingkari buaian dan berada di dekat bayi Pu.
Karena tidak mampu berbuat apa-apa, kedua orang tua Pu kemudian memohon agar ular tersebut tidak menyakiti anak mereka.
Mereka berdoa dan menyerahkan keselamatan anaknya kepada kekuatan yang lebih tinggi.
Tidak lama kemudian, ular tersebut perlahan membuka lilitannya.
Ular itu meninggalkan buaian dan menghilang ke dalam hutan.
Nai Hu dan Nang Chan segera berlari mendekati anak mereka.
Bayi Pu masih tertidur.
Tidak ada luka.
Tidak ada bekas gigitan.
Tidak ada tanda bahwa ular tersebut telah menyakitinya.
Namun kemudian mereka melihat sesuatu yang lain.
Di atas dada bayi Pu terdapat sebuah benda seperti kristal atau bola kaca yang berkilauan.
Benda itu dipercaya ditinggalkan oleh ular tersebut.
Dalam tradisi setempat, benda tersebut kemudian dikenal sebagai bola kristal spiritual, dan dipercaya menjadi salah satu benda suci yang memiliki hubungan dengan kehidupan Pu.
Bola tersebut kemudian disimpan dan dalam tradisi Wat Phakho dipercaya masih berkaitan dengan peninggalan spiritual beliau.
BAGIAN II
BOLA KRISTAL DAN BERUBAHNYA NASIB KELUARGA
Kabar mengenai kejadian tersebut akhirnya sampai kepada Setthi Pan.
Ia mengetahui bahwa keluarga Nai Hu memiliki sebuah benda yang dianggap sangat berharga.
Setthi Pan kemudian meminta benda tersebut.
Namun posisi keluarga Pu sangat lemah.
Mereka memiliki utang kepadanya.
Karena tidak memiliki pilihan, Nai Hu dan Nang Chan akhirnya menyerahkan bola tersebut.
Setelah bola itu berada di tangan Setthi Pan, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Keluarga Setthi Pan mengalami berbagai masalah.
Orang-orang di keluarganya mulai jatuh sakit.
Keadaan rumah tangganya menjadi tidak tenang.
Kekayaannya mulai berkurang.
Berbagai kesulitan datang berturut-turut.
Setthi Pan kemudian menyadari bahwa masalah tersebut muncul setelah ia mengambil benda milik bayi Pu.
Ia akhirnya mengembalikan bola kristal tersebut kepada keluarga Pu.
Ia juga meminta maaf kepada Pu dan kedua orang tuanya.
Lebih dari itu, Setthi Pan membebaskan seluruh utang keluarga tersebut.
Dengan demikian, Nai Hu dan Nang Chan terbebas dari status sebagai pekerja yang terikat utang.
Kehidupan keluarga Pu kemudian mulai membaik.
Dalam tradisi masyarakat setempat, peristiwa tersebut dipandang sebagai tanda bahwa sejak kecil Pu telah memiliki barami, yaitu akumulasi kebajikan dan kekuatan spiritual yang sangat tinggi.
BAGIAN III
ANAK YANG CEPAT BELAJAR
Ketika Pu berusia sekitar tujuh tahun, orang tuanya menyadari bahwa anak mereka memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Mereka kemudian membawa Pu ke Wat Di Luang, yang berada dekat dengan tempat tinggal keluarga.
Di sana ia mulai belajar membaca dan menulis.
Ia mempelajari bahasa yang digunakan dalam pendidikan masyarakat pada masa itu, termasuk bahasa Thai dan Khmer yang digunakan dalam lingkungan pendidikan keagamaan.
Pu belajar dengan sangat cepat.
Apa yang bagi anak lain membutuhkan waktu lama, dapat dipahaminya dengan mudah.
Karena melihat kecerdasannya, guru di vihara menyadari bahwa anak tersebut memiliki kemampuan yang tidak biasa.
BAGIAN IV
MENJADI SAMANERA
Ketika mencapai usia sekitar lima belas tahun, Pu ditahbiskan menjadi samanera, atau bhikkhu muda.
Pada masa inilah kehidupannya benar-benar mulai berubah.
Ia tidak lagi hanya belajar sebagai anak desa.
Ia mulai menjalani kehidupan sebagai seorang calon bhikkhu.
Ia belajar Dhamma.
Ia mempelajari kitab.
Ia berlatih disiplin.
Ia belajar meditasi.
Dan yang paling penting, ia mulai membangun kehidupan spiritual yang kemudian menjadi dasar dari seluruh kisah hidupnya.
Pada masa penahbisan ini pula, ayahnya menyerahkan kembali bola kristal yang sebelumnya pernah diambil oleh Setthi Pan.
Bola tersebut kemudian dipercaya menjadi benda pribadi yang selalu memiliki hubungan dengan Pu.
BAGIAN V
MENCARI ILMU YANG LEBIH TINGGI
Guru Pu, yang dalam riwayat disebut Phra Chuang, mengetahui bahwa kemampuan muridnya sangat tinggi.
Karena itu, ia tidak ingin Pu berhenti belajar di vihara kecil tempat ia dibesarkan.
Pu kemudian dikirim untuk belajar kepada guru yang lebih tinggi di Wat Si Khu Yang, yang sekarang dikenal sebagai Wat Si Yang.
Tempat tersebut berada beberapa kilometer dari Wat Di Luang.
Di sana Pu mempelajari ilmu keagamaan yang lebih tinggi.
Ia mempelajari bahasa Pali, tata bahasa, kitab dan sistem pendidikan agama yang pada masa itu menjadi dasar bagi seorang bhikkhu terpelajar.
Sekali lagi, Pu menunjukkan kemampuan luar biasa.
Ia mampu memahami pelajaran dengan cepat.
Ia menyelesaikan pendidikannya dengan sangat baik.
Namun ia masih merasa belum cukup.
Ia ingin terus belajar.
Perjalanan berikutnya membawa Pu menuju Nakhon Si Thammarat.
BAGIAN VI
MENJADI BHIKKHU
Nakhon Si Thammarat pada masa itu merupakan salah satu pusat penting pendidikan Buddhis di Thailand Selatan.
Pu kemudian belajar di lingkungan Wat Sema Mueang.
Di sana ia bertemu dengan guru-guru agama yang lebih senior dan memperdalam pengetahuannya.
Setelah mencapai usia yang memenuhi syarat, Pu menerima penahbisan penuh sebagai bhikkhu.
Dalam riwayat, ia dikenal dengan nama monastik Samiramo.
Sejak saat itu, kehidupan Pu berubah sepenuhnya.
Ia bukan lagi sekadar anak cerdas dari sebuah keluarga petani.
Ia telah menjadi seorang bhikkhu yang menghabiskan hidupnya untuk mempelajari Dhamma.
Ia belajar kepada banyak guru.
Ia berlatih.
Ia bermeditasi.
Ia mempelajari kitab.
Dan perlahan, namanya mulai dikenal di kalangan masyarakat dan para bhikkhu di wilayah Selatan.
BAGIAN VII
PERJALANAN MENUJU AYUTTHAYA
Namun Samiramo masih merasa bahwa ilmu yang dimilikinya belum sempurna.
Pada masa itu, Ayutthaya merupakan pusat kerajaan dan salah satu pusat pendidikan agama paling penting.
Karena itu, Samiramo memutuskan melakukan perjalanan ke Ayutthaya.
Ia menumpang sebuah kapal yang melakukan perjalanan menuju utara.
Perjalanan yang awalnya terlihat biasa kemudian berubah menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam kehidupannya.
BAGIAN VIII
KAPAL YANG TERHENTI DI LAUT
Ketika kapal sedang berada di laut, tiba-tiba datang badai besar.
Angin bertiup kencang.
Gelombang menjadi tinggi.
Kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Akhirnya kapal harus berhenti.
Hari demi hari berlalu.
Persediaan makanan mulai menipis.
Yang paling mengkhawatirkan adalah air minum.
Persediaan air tawar habis.
Para awak kapal mulai panik.
Dalam keadaan tersebut, sebagian awak kapal mulai percaya bahwa keberadaan Samiramo di kapal membawa masalah.
Mereka kemudian menyalahkan sang bhikkhu.
Samiramo tidak melawan.
Ia tidak marah.
Ia hanya menerima keadaan tersebut dengan tenang.
Akhirnya ia diminta turun dari kapal.
Ia ditempatkan di sebuah perahu kecil.
Dan di situlah salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah Luang Pu Tuad terjadi.
BAGIAN IX
AIR LAUT YANG MENJADI TAWAR
Samiramo duduk dengan tenang di perahu.
Ia kemudian menurunkan kakinya ke permukaan laut.
Dalam riwayat yang diwariskan, ia meminta para awak kapal mengambil air laut dari tempat kakinya menyentuh air.
Para awak kapal mengambil air tersebut.
Mereka kemudian mencicipinya.
Air itu tidak lagi asin.
Air tersebut telah berubah menjadi air tawar.
Para awak kapal terkejut.
Mereka menyadari bahwa bhikkhu yang sebelumnya mereka anggap sebagai penyebab masalah justru telah memberikan pertolongan kepada mereka.
Mereka segera memohon maaf.
Samiramo kemudian diminta kembali ke kapal.
Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan nama yang paling terkenal dalam kehidupan beliau:
Luang Pu Tuad Yiap Nam Thale Jued — Luang Pu Tuad yang menginjak air laut hingga menjadi tawar.
Kisah inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi utama penghormatan masyarakat terhadap Luang Pu Tuad.
BAGIAN X
SAMIRAMO DI AYUTTHAYA
Setelah perjalanan panjang, Samiramo akhirnya tiba di Ayutthaya.
Ia tidak datang sebagai seorang pejabat.
Ia tidak datang sebagai seseorang yang mencari kekuasaan.
Ia datang sebagai seorang bhikkhu yang ingin belajar.
Ia kemudian tinggal di kawasan Wat Ratchanuwat dan melanjutkan pendidikannya.
Namun kemampuan Samiramo tidak dapat disembunyikan lama.
Orang-orang mulai mengetahui bahwa bhikkhu dari Selatan tersebut memiliki pengetahuan yang sangat luas.
Tidak lama kemudian, kesempatan besar datang kepadanya.
BAGIAN XI
TANTANGAN DARI LANKA
Dalam salah satu kisah terbesar mengenai kehidupannya di Ayutthaya, datanglah sekelompok cendekiawan dari Lanka.
Mereka membawa sebuah tantangan intelektual kepada kerajaan.
Tantangan tersebut berkaitan dengan ribuan keping emas yang memiliki tulisan dan simbol-simbol keagamaan.
Pihak Ayutthaya diminta memecahkan dan memahami susunan tersebut dalam waktu yang ditentukan.
Para cendekiawan kerajaan mencoba menyelesaikannya.
Namun tidak ada yang mampu memberikan jawaban.
Keadaan kerajaan menjadi sangat serius.
BAGIAN XII
MIMPI SANG RAJA
Dalam keadaan tersebut, muncul sebuah pertanda.
Raja Ayutthaya mengalami mimpi.
Dalam mimpi itu, ia melihat seekor gajah putih datang dari arah barat.
Para ahli kemudian menafsirkan mimpi tersebut.
Mereka mengatakan bahwa seseorang dari arah barat akan datang dan menyelesaikan masalah kerajaan.
Tidak lama kemudian, seorang pejabat kerajaan bernama Sri Thanon Chai mengetahui keberadaan Samiramo.
Ia mengetahui bahwa bhikkhu tersebut berasal dari wilayah Selatan.
Samiramo kemudian dibawa untuk menghadapi tantangan tersebut.
BAGIAN XIII
BHIKKHU MUDA YANG MEMBUAT PARA CENDEKIAWAN TERDIAM
Ketika Samiramo muncul, para cendekiawan dari Lanka tidak langsung percaya.
Mereka melihat seorang bhikkhu yang relatif muda.
Mereka tidak menyangka bahwa orang tersebut mampu memecahkan masalah yang gagal diselesaikan para cendekiawan kerajaan.
Namun Samiramo mulai menjawab.
Ia menggunakan perumpamaan.
Ia menjelaskan konsep-konsep yang rumit dengan cara sederhana.
Jawabannya menunjukkan bahwa ia memahami bukan hanya tulisan dan bahasa, tetapi juga makna mendalam yang berada di balik ajaran tersebut.
Menurut riwayat, akhirnya seluruh tantangan dapat diselesaikan.
Kerajaan Ayutthaya berhasil melewati ujian tersebut.
Nama Samiramo kemudian semakin dikenal.
BAGIAN XIV
RAJA MENAWARKAN KEKUASAAN
Raja Ayutthaya sangat terkesan dengan kemampuan Samiramo.
Ia ingin memberikan penghargaan yang besar.
Dalam riwayat, sang raja bahkan menawarkan agar Samiramo menjadi raja selama tujuh hari.
Namun jawaban Samiramo sederhana.
Ia tidak menginginkan kekuasaan.
Ia tidak ingin menjadi raja.
Ia adalah seorang bhikkhu.
Jalan yang dipilihnya adalah Dhamma.
Karena itu, ia menolak tawaran tersebut.
Sebagai gantinya, raja memberikan penghormatan melalui gelar monastik tinggi:
Phra Ratchamuni Samiram Khunupamachan.
Penghargaan tersebut menjadi tanda bahwa seorang bhikkhu dari Thailand Selatan telah memperoleh pengakuan luar biasa di pusat Kerajaan Ayutthaya.
BAGIAN XV
KETIKA AYUTTHAYA DILANDA WABAH
Tidak lama setelah itu, Ayutthaya mengalami wabah penyakit.
Masyarakat jatuh sakit.
Ketakutan menyebar.
Raja kemudian kembali mengingat Samiramo.
Beliau diminta membantu masyarakat.
Dalam riwayat, Samiramo membuat air suci dan memberkati masyarakat yang sakit.
Orang-orang datang kepadanya.
Mereka memohon pertolongan.
Setelah itu, wabah tersebut dipercaya mulai mereda.
Sekali lagi, reputasi Samiramo semakin kuat.
Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang bhikkhu yang memiliki kecerdasan luar biasa.
Ia mulai dikenal sebagai guru yang memiliki barami besar dan kekuatan spiritual yang mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat.
BAGIAN XVI
KEMBALI KE TANAH KELAHIRAN
Setelah bertahun-tahun berada di Ayutthaya, Samiramo akhirnya merasa bahwa waktunya untuk kembali ke Selatan telah tiba.
Ia meminta izin kepada raja.
Raja memberikan izin.
Samiramo kemudian meninggalkan Ayutthaya.
Perjalanannya kembali ke Selatan bukanlah perjalanan seorang pejabat kerajaan.
Ia kembali sebagai seorang bhikkhu.
Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Ia melakukan meditasi.
Ia mengajarkan Dhamma.
Ia bertemu masyarakat.
Dan di setiap tempat yang didatanginya, kisah mengenai kebijaksanaan dan baraminya semakin berkembang.
BAGIAN XVII
SOMDET CHAO PHAKHO
Akhirnya Samiramo kembali ke wilayah Phakho.
Tempat ini memiliki arti khusus baginya.
Di sinilah kehidupannya dimulai.
Di sinilah ia tumbuh.
Di sinilah masyarakat pertama kali mengenal namanya.
Ketika beliau kembali sebagai bhikkhu senior, masyarakat menyambutnya dengan penghormatan yang luar biasa.
Ia kemudian dikenal sebagai Somdet Chao Phakho.
Wat Phakho menjadi tempat penting dalam kehidupannya.
Di sana ia mengajarkan Dhamma dan membangun kembali kehidupan keagamaan masyarakat.
BAGIAN XVIII
MEMBANGUN KEMBALI WAT PHAKHO
Menurut riwayat setempat, Somdet Chao Phakho memiliki peranan besar dalam perkembangan Wat Phakho.
Ia dikaitkan dengan pembangunan berbagai bagian penting dari kompleks vihara.
Di antaranya adalah stupa, vihara dan ubosot.
Pada masa itu, Wat Phakho bukan sekadar tempat ibadah.
Tempat tersebut merupakan pusat kehidupan masyarakat dan agama di kawasan sekitar Danau Songkhla.
Somdet Chao Phakho kemudian menjadi tokoh yang sangat dihormati.
Masyarakat datang untuk belajar.
Mereka datang untuk meminta nasihat.
Mereka datang untuk mencari perlindungan.
Dan perlahan, nama Somdet Chao Phakho menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari identitas wilayah tersebut.
BAGIAN XIX
GURU YANG DIPERCAYA MEMILIKI BARAMI TINGGI
Bagi masyarakat sekitar, Somdet Chao Phakho bukan sekadar kepala vihara.
Ia dianggap sebagai seorang guru spiritual.
Orang-orang percaya bahwa beliau memiliki kebijaksanaan yang jauh melampaui manusia biasa.
Mereka juga percaya bahwa beliau mampu memberikan perlindungan.
Karena itu, berbagai kisah mengenai kejadian luar biasa mulai berkembang.
Ada cerita mengenai keselamatan.
Ada cerita mengenai penyembuhan.
Ada cerita mengenai perlindungan dari bahaya.
Dan semuanya semakin memperkuat keyakinan bahwa Somdet Chao Phakho memiliki barami yang sangat tinggi.
BAGIAN XX
PERJALANAN MENUJU SAI BURI
Pada bagian akhir kehidupannya, Somdet Chao Phakho melakukan perjalanan menuju wilayah Sai Buri, yang pada masa itu berkaitan dengan kawasan Kedah.
Di sana beliau dikenal dengan nama Than Langka.
Ia menjalani kehidupan sebagai bhikkhu pengembara.
Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Namun hubungan beliau dengan kawasan Selatan tetap sangat kuat.
Salah satu tempat yang kemudian menjadi sangat penting adalah Wat Chang Hai.
BAGIAN XXI
MUNCULNYA WAT CHANG HAI DALAM KISAH LUANG PU TUAD
Menurut tradisi setempat, Wat Chang Hai merupakan sebuah vihara tua yang memiliki hubungan dengan penguasa Kedah.
Kisah pendiriannya berkaitan dengan seorang penguasa bernama Phaya Kaem Dam, yang sedang mencari lokasi yang tepat untuk membangun sebuah kota baru bagi saudara perempuannya.
Ia kemudian melakukan sebuah ritual dengan melepaskan seekor gajah.
Gajah tersebut berjalan masuk ke hutan.
Rombongan mengikuti dari belakang.
Pada suatu hari, gajah tersebut berhenti di sebuah tempat.
Gajah itu kemudian mengeluarkan suara sebanyak tiga kali.
Peristiwa tersebut dianggap sebagai pertanda baik.
Namun ketika lokasi tersebut ditawarkan untuk pembangunan kota, saudara perempuan sang penguasa tidak menyukainya.
Akhirnya lokasi tersebut digunakan untuk membangun sebuah vihara.
Vihara itu kemudian dikenal sebagai Wat Chang Hai.
Dan dalam tradisi yang diwariskan, seorang bhikkhu yang dikenal sebagai Than Langka, Somdet Chao Phakho, atau Luang Pu Tuad kemudian diundang untuk menjadi kepala vihara tersebut.
BAGIAN XXII
ANTARA WAT PHAKHO DAN WAT CHANG HAI
Karena itu, ketika kita menemukan nama Luang Pu Tuad Wat Phakho dan Luang Pu Tuad Wat Chang Hai, keduanya merujuk kepada sosok yang sama.
Di wilayah Phakho, beliau dikenal sebagai Somdet Chao Phakho.
Di wilayah Wat Chang Hai, beliau dikenal sebagai Than Chang Hai atau Luang Pu Tuad.
Dalam tradisi Thailand Selatan, nama-nama tersebut bukan menunjukkan beberapa tokoh berbeda.
Nama tersebut menggambarkan perjalanan seorang guru spiritual yang hidup dan mengajar di berbagai wilayah.
BAGIAN XXIII
PESAN TERAKHIR
Ketika usia Luang Pu Tuad semakin lanjut, beliau menyampaikan pesan kepada murid-muridnya.
Jika suatu hari beliau meninggal, jenazahnya harus dibawa kembali ke Wat Chang Hai.
Beliau kemudian melanjutkan perjalanan menuju wilayah Sai Buri.
Dan di sanalah kehidupan beliau berakhir.
Menurut riwayat, Luang Pu Tuad meninggal pada tahun 2225 BE atau 1682 Masehi, pada usia sekitar seratus tahun.
Namun kisahnya tidak berhenti setelah kematian.
Justru sejak saat itu, penghormatan terhadap beliau semakin berkembang.
BAGIAN XXIV
JENAZAH DIBAWA KEMBALI KE WAT CHANG HAI
Setelah beliau meninggal, para murid menjalankan pesan yang telah diberikan.
Jenazah beliau dibawa kembali menuju Wat Chang Hai.
Kemudian dilakukan kremasi.
Sebagian abu dan peninggalannya dipercaya ditempatkan di Wat Chang Hai, sementara sebagian lainnya dibawa kembali ke wilayah yang memiliki hubungan dengan kehidupannya.
Sebuah stupa kemudian dibangun untuk menyimpan peninggalan beliau.
Tempat tersebut akhirnya menjadi salah satu pusat penghormatan terhadap Luang Pu Tuad.
BAGIAN XXV
DUA WARISAN DI WAT PHAKHO
Sementara itu, di Wat Phakho, masyarakat terus menjaga berbagai peninggalan yang dikaitkan dengan Somdet Chao Phakho.
Dua peninggalan yang sangat penting dalam tradisi setempat adalah bola kristal yang dikaitkan dengan masa kecil beliau dan jejak kaki yang dipercaya pernah ditinggalkan beliau di atas sebuah batu.
Keduanya kemudian menjadi objek penghormatan masyarakat.
Wat Phakho pun terus menjadi tempat penting untuk mengenang sosok Somdet Chao Phakho.
Tradisi mengenai beliau diwariskan dari generasi ke generasi.
BAGIAN XXVI
KISAH LUANG PU TUAD TETAP HIDUP
Selama ratusan tahun, kisah Luang Pu Tuad terus hidup terutama di wilayah Thailand Selatan.
Masyarakat mengenalnya melalui cerita keluarga, guru agama, vihara dan tradisi lokal.
Namun kemudian datang sebuah periode yang mengubah sejarah Luang Pu Tuad secara besar-besaran.
Abad ke-20 membawa namanya keluar dari wilayah Selatan.
Dan semuanya berhubungan dengan seorang bhikkhu bernama Ajarn Tim Dhammatharo.
BAGIAN XXVII
AJARN TIM DAN WAT CHANG HAI
Pada masa modern, Wat Chang Hai dipimpin oleh Ajarn Tim.
Pada waktu itu, pembangunan dan pemugaran vihara masih membutuhkan dana.
Kemudian muncul gagasan untuk membuat amulet yang dapat diberikan kepada masyarakat sebagai bentuk penghormatan sekaligus membantu pembangunan vihara.
Tetapi sebelum amulet tersebut dibuat, sebuah kejadian spiritual terjadi.
BAGIAN XXVIII
MIMPI ANAN KANANURAK
Pada suatu malam menjelang akhir November 2495 BE, seorang pria bernama Anan Kananurak mengalami mimpi.
Dalam mimpinya, ia bertemu dengan Luang Pu Tuad.
Luang Pu Tuad memberinya obat.
Kemudian beliau memasangkan sebuah benda di kepala Anan.
Tindakan tersebut dipahami sebagai tanda bahwa Anan telah diterima sebagai murid.
Setelah itu Luang Pu Tuad berjalan pergi menuju arah Wat Chang Hai.
Ketika terbangun, Anan merasa bahwa mimpi tersebut memiliki makna yang sangat kuat.
Ia kemudian berpikir bahwa stupa di depan Wat Chang Hai mungkin memiliki hubungan dengan peninggalan Luang Pu Tuad.
Namun karena kesibukan, ia tidak langsung pergi.
Barulah pada 4 Februari 2497 BE, Anan akhirnya datang ke Wat Chang Hai.
Di sana ia bertemu Ajarn Tim.
Percakapan mereka kemudian mengubah sejarah amulet Luang Pu Tuad.
BAGIAN XXIX
GAGASAN MEMBUAT AMULET
Anan bertanya kepada Ajarn Tim mengenai pembangunan ubosot.
Ia bertanya apakah vihara akan membuat sesuatu yang dapat diberikan kepada orang-orang yang menyumbangkan dana.
Ajarn Tim menjelaskan bahwa gagasan tersebut sebenarnya telah dipikirkan selama sekitar dua tahun, tetapi belum terlaksana.
Anan kemudian mengatakan bahwa ia bersedia membantu membiayai pembuatan amulet tersebut.
Ajarn Tim menyetujuinya.
Mereka mulai membicarakan bentuk dan bahan.
Dan pada saat itulah terjadi sebuah pengalaman yang sangat penting.
BAGIAN XXX
VISI SEORANG BHIKKHU TUA DI ATAS BUNGA TERATAI
Ketika pembicaraan mengenai amulet berlangsung, Anan tiba-tiba mengalami sensasi yang sangat kuat.
Ia merasa merinding.
Kemudian ia melihat sebuah gambaran yang sangat jelas.
Di hadapannya muncul sosok seorang bhikkhu tua yang duduk bersila di atas bunga teratai.
Sosok tersebut berwarna gelap.
Anan percaya bahwa yang dilihatnya adalah Luang Pu Tuad.
Ia kemudian menyampaikan pengalaman tersebut kepada Ajarn Tim.
Bentuk inilah yang kemudian menjadi dasar utama gambaran Luang Pu Tuad dalam amulet generasi awal Wat Chang Hai.
Dengan demikian, figur seorang bhikkhu tua yang duduk bersila di atas bunga teratai menjadi bentuk yang sangat dikenal hingga hari ini.
BAGIAN XXXI
MENGUMPULKAN BAHAN SUCI
Setelah keputusan dibuat, proses pembuatan dimulai.
Berbagai jenis wan, yaitu tanaman yang dipercaya memiliki sifat spiritual, dikumpulkan dari kawasan pegunungan.
Pengumpulan bahan dilakukan dengan bantuan guru-guru yang memahami jenis dan khasiat masing-masing tanaman.
Salah satu tokoh yang membantu proses tersebut adalah Ajarn Saeng dari Wat Wong Kot Banphot, yang dikenal memiliki pengetahuan mengenai berbagai jenis wan.
Selain wan, digunakan pula tanah hitam alami yang diambil dari kawasan kaki gunung.
Semua bahan kemudian dikumpulkan dan dipersiapkan untuk pembuatan amulet.
BAGIAN XXXII
19 MARET 2497
Pada 19 Maret 2497 BE, proses pencetakan amulet dimulai.
Rencana awal adalah membuat 84.000 keping.
Namun waktu yang tersedia sangat terbatas karena tanggal upacara pemberkatan telah ditentukan.
Akhirnya jumlah yang berhasil dibuat mencapai sekitar 64.000 keping.
Amulet tersebut dibuat menggunakan campuran berbagai bahan spiritual dan tanah hitam.
Proses pencetakan berlangsung hingga 15 April 2497.
Setelah seluruh proses selesai, amulet tersebut dipersiapkan untuk ritual besar.
BAGIAN XXXIII
UPACARA 18 APRIL 2497
Pada 18 April 2497 BE, dilakukan upacara pemberkatan di ubosot lama Wat Chang Hai.
Ajarn Tim menjadi tokoh utama dalam upacara tersebut.
Dalam tradisi yang diwariskan, dilakukan pula ritual untuk mengundang dan menghormati kekuatan spiritual Luang Pu Tuad serta guru-guru spiritual yang berkaitan dengan Wat Chang Hai.
Beberapa guru senior juga hadir dalam ritual tersebut.
Di antaranya adalah Phra Khru Thammakit Koson dari Wat Sai Khao, Luang Pho Song dari Wat Phakho, dan Phra Upachaya Dam dari Wat Silaloi.
Upacara selesai pada hari yang sama.
Setelah ritual selesai, amulet tersebut mulai dibagikan kepada masyarakat yang telah menunggu.
Masyarakat menerima masing-masing satu keping untuk dihormati dan dibawa sebagai perlindungan.
BAGIAN XXXIV
AMULET YANG MENGUBAH NAMA LUANG PU TUAD
Pada awalnya, amulet tersebut dibuat terutama untuk membantu pembangunan Wat Chang Hai.
Namun apa yang terjadi setelahnya jauh lebih besar.
Amulet tersebut mulai dikenal masyarakat.
Cerita mengenai Luang Pu Tuad semakin tersebar.
Orang-orang mulai membawa namanya ke berbagai wilayah Thailand.
Dan perlahan, nama yang sebelumnya sangat kuat di Thailand Selatan berubah menjadi nama yang dikenal hampir di seluruh negeri.
Luang Pu Tuad menjadi salah satu figur paling terkenal dalam dunia amulet Thailand.
Generasi tahun 2497 BE kemudian menjadi salah satu tonggak terpenting dalam sejarah penghormatan terhadap beliau.
BAGIAN XXXV
WARISAN SPIRITUAL
Bagi masyarakat Thailand, Luang Pu Tuad bukan hanya dikenal karena satu mukjizat.
Ia merupakan simbol dari banyak hal.
Ia adalah simbol kebijaksanaan, karena sejak kecil ia dikenal sangat cepat belajar dan kemudian menjadi bhikkhu yang sangat terpelajar.
Ia adalah simbol barami, karena berbagai kisah menggambarkan dirinya sebagai seorang guru yang memiliki kekuatan spiritual tinggi.
Ia adalah simbol perlindungan, karena banyak orang percaya bahwa kekuatan spiritual beliau dapat membantu seseorang melewati bahaya.
Ia adalah simbol keselamatan, terutama dalam tradisi masyarakat yang membawa amulet beliau dalam perjalanan.
Dan ia adalah simbol welas asih, karena sepanjang kisah hidupnya beliau digambarkan sebagai seorang guru yang membantu masyarakat.
BAGIAN XXXVI
DARI PU MENJADI LUANG PU TUAD
Jika seluruh perjalanan tersebut dilihat sebagai satu kisah, kehidupan Luang Pu Tuad sebenarnya merupakan perjalanan yang luar biasa panjang.
Ia bermula sebagai Pu, seorang anak kecil dari keluarga sederhana di Songkhla.
Kemudian datang kisah ular besar yang melindunginya.
Lalu muncul bola kristal yang dipercaya sebagai tanda barami.
Ia tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas.
Pada usia lima belas tahun ia menjadi samanera.
Kemudian ia belajar kepada berbagai guru.
Ia menjadi bhikkhu.
Ia pergi ke Nakhon Si Thammarat.
Kemudian melakukan perjalanan jauh menuju Ayutthaya.
Di tengah laut, ia dipercaya mengubah air laut menjadi tawar.
Di Ayutthaya, ia menghadapi tantangan para cendekiawan.
Ia memperoleh penghormatan dari raja.
Ia menolak kekuasaan duniawi.
Ia membantu masyarakat ketika wabah datang.
Kemudian ia kembali ke Selatan.
Ia menjadi Somdet Chao Phakho.
Ia mengajarkan Dhamma.
Ia membangun dan mengembangkan Wat Phakho.
Ia melakukan perjalanan hingga wilayah Sai Buri.
Ia kemudian memiliki hubungan dengan Wat Chang Hai.
Dan ketika hidupnya berakhir, namanya justru semakin besar.
Berabad-abad kemudian, melalui Ajarn Tim dan amulet tahun 2497, nama tersebut menyebar ke seluruh Thailand.
BAGIAN XXXVII
DUA NAMA, SATU GURU
Karena perjalanan hidupnya yang panjang, Luang Pu Tuad dikenal dengan banyak nama.
Sebagai anak, ia dikenal sebagai Pu.
Setelah menjadi bhikkhu, ia dikenal sebagai Samiramo.
Ketika kembali ke Phakho, masyarakat mengenalnya sebagai Somdet Chao Phakho.
Dalam perjalanan ke wilayah Sai Buri, ia dikenal sebagai Than Langka.
Dalam hubungannya dengan Wat Chang Hai, ia dikenal sebagai Than Chang Hai.
Dan akhirnya, nama yang paling dikenal masyarakat Thailand adalah:
Luang Pu Tuad Yiap Nam Thale Jued.
Semua nama tersebut merujuk kepada satu sosok yang sama.
Seorang bhikkhu dari Thailand Selatan yang perjalanan hidupnya kemudian menjadi salah satu tradisi spiritual terbesar dalam budaya Thailand.
BAGIAN XXXVIII
LUANG PU TUAD HARI INI
Hari ini, nama Luang Pu Tuad tetap hidup di berbagai wilayah Thailand.
Di Wat Phakho, masyarakat masih mengenang beliau sebagai Somdet Chao Phakho.
Di Wat Chang Hai, beliau dihormati sebagai Luang Pu Tuad Wat Chang Hai.
Di kalangan kolektor amulet, namanya merupakan salah satu nama paling penting.
Dan di tengah masyarakat luas, beliau dikenal sebagai sosok yang memberikan perlindungan dan keselamatan.
Amulet yang membawa nama beliau telah dibuat dalam berbagai generasi dan berbagai bentuk.
Namun di balik setiap bentuk tersebut, terdapat satu kisah yang sama:
kisah seorang anak bernama Pu yang sejak kecil dipercaya memiliki barami luar biasa, kemudian tumbuh menjadi bhikkhu, belajar dari berbagai guru, berjalan melintasi Thailand Selatan hingga Ayutthaya, dan akhirnya menjadi salah satu guru spiritual yang paling dihormati dalam sejarah Thailand.
Dan di antara seluruh cerita tentang dirinya, satu kisah tetap menjadi gambaran paling kuat.
Di tengah laut yang luas, ketika orang-orang kehabisan air minum dan tidak tahu harus berbuat apa, seorang bhikkhu hanya menurunkan kakinya ke permukaan air.
Air yang sebelumnya asin dipercaya berubah menjadi tawar.
Sejak saat itulah nama tersebut terus hidup:
Luang Pu Tuad — sang bhikkhu yang menginjak air laut hingga menjadi tawar.

Comments
Post a Comment