Skip to main content

Riwayat LP Thongdam (Sang Dewa Ladang Bunga Matahari) Wat Tham Tapian Thong


LUANG PU THONGDAM INTHAWANGSO

Kisah Hidup Guru Spiritual Wat Tham Tapian Thong, Lopburi

Luang Pu Thongdam Inthawangso adalah salah satu guru spiritual terkenal dari Lopburi yang dikenal luas melalui tradisi wicha, Takrut, yantra, amulet, serta kehidupan Thudong yang dijalaninya selama puluhan tahun. Berasal dari keluarga petani sederhana di Prang Ku, Sisaket, perjalanan hidup beliau membawa dirinya berguru kepada beberapa guru besar, termasuk Luang Phor Moom dari Wat Prasat Yer Nuea dan Luang Pu Toh dari Wat Pradu Chimphli, sebelum akhirnya menetap di sebuah kawasan sunyi di Lopburi yang kemudian menjadi Wat Tham Tapian Thong.


Namun kisah Luang Pu Thongdam bukan hanya mengenai amulet dan ilmu spiritual. Ia adalah kisah seorang anak petani yang kemudian menjadi bhikkhu, pencari ilmu, bhikkhu Thudong, pembangun vihara, guru wicha, pelindung masyarakat, serta tokoh yang selama puluhan tahun menjadi pusat penghormatan umat di kawasan ladang bunga matahari.


BAGIAN I: LAHIR DARI KELUARGA PETANI DI PRANG KU
Nama Asli: Thongdam Pui-ob
Tanggal Lahir: 19 Agustus 2475 BE (1932 Masehi)
Tempat Lahir: Ban Prang Ku, Distrik Prang Ku, Provinsi Sisaket
Orang Tua: Sila Pui-ob (Ayah) dan Nual Pui-ob (Ibu)

Keluarga mereka memiliki empat orang anak dan menggantungkan kehidupan dari pertanian. Masa kecil Thongdam berlangsung dalam suasana pedesaan yang sederhana. Ia tidak tumbuh dalam lingkungan keluarga kaya. Sejak kecil, ia mengenal pekerjaan pertanian, kehidupan desa, dan perjuangan untuk membantu keluarga.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hingga kelas empat di Wat Ban Prasat, ia tidak melanjutkan pendidikan formal. Ia kembali membantu orang tuanya bekerja di sawah dan ladang, serta memelihara ternak. Pada musim tertentu, ketika pekerjaan di kampung tidak cukup, ia pergi ke daerah lain untuk merantau mencari pekerjaan. Kehidupan tersebut membentuk karakter Thongdam sejak usia muda: sederhana, kuat, dan terbiasa bekerja keras.

BAGIAN II: DARI ANAK PETANI MENJADI BHIKKHU

Ketika mencapai usia 22 tahun, Thongdam mengambil keputusan untuk memasuki kehidupan monastik. Ia ditahbiskan sebagai bhikkhu di Wat Samo, Distrik Prang Ku, Provinsi Sisaket.


Dalam penahbisan tersebut:
  • Phra Khru Wirun Thammakit menjadi Phra Upachaya (Guru Penahbis).
  • Phra Ajarn Ngao menjadi Phra Kammavacacariya.
  • Phra Ajarn Pho menjadi Phra Anusavanacariya.
Setelah ditahbiskan, Thongdam menerima nama monastik: Inthawangso. Sejak saat itu, kehidupan beliau berubah sepenuhnya. Ia bukan lagi seorang pemuda petani, melainkan seorang bhikkhu. Kehidupan monastiknya kemudian berkembang dari sekadar menjalankan tradisi vihara menjadi pencarian pengetahuan spiritual yang jauh lebih dalam.

BAGIAN III: BELAJAR DHAMMA DAN MENCARI ILMU
Sebagai seorang bhikkhu muda, Luang Pu Thongdam tidak hanya menjalani kehidupan monastik secara rutin, tetapi ia juga giat belajar. Ia mempelajari Phra Pariyatti Dhamma, dan berhasil menyelesaikan ujian Nak Tham tingkat Tri (Dasar) dan tingkat Tho (Menengah).

Namun setelah mendapatkan dasar pengetahuan Dhamma, pencariannya tidak berhenti. Ia mulai mengembara mencari guru spiritual untuk mendalami ilmu magis (wicha) serta praktik meditasi kuno. Perjalanan inilah yang akhirnya mempertemukannya dengan salah satu tokoh paling penting dalam silsilah spiritualnya: Luang Phor Moom Inthapanyo dari Wat Prasat Yer Nuea, Sisaket.

(Catatan khusus kolektor: Beliau adalah Luang Phor Moom dari Wat Prasat Yer Nuea, bukan Luang Pu Moon dari Wat Ban Jan).



BAGIAN IV: MENJADI MURID LUANG PHOR MOOM

Luang Phor Moom dikenal sebagai salah satu guru spiritual yang sangat disegani di wilayah perbatasan Sisaket. Ketika Luang Pu Thongdam datang untuk belajar, Luang Phor Moom tidak langsung memberikan semua rahasia pengetahuannya. Ia terlebih dahulu menguji karakter sang murid untuk melihat kesabaran, disiplin, dan ketulusannya dalam merawat ilmu suci.

Setelah lulus dari masa ujian watak tersebut, Luang Pu Thongdam akhirnya tinggal dan belajar bersamanya selama beberapa waktu. Hubungan batin ini menjadi fondasi terkuat dalam jalur wicha Luang Pu Thongdam. Ia mengamati cara gurunya berlatih meditasi, membantu urusan vihara, hingga secara bertahap menerima warisan pengetahuan gaib dan pembuatan amulet perlindungan.

BAGIAN V: WAT PRASAT CHAN NGO: UJIAN SEORANG BHIKKHU MUDA
Setelah dinilai cukup matang, Luang Phor Moom mempercayakan tugas besar kepada Luang Pu Thongdam untuk memimpin Wat Prasat Chan Ngo. Saat itu, kondisi vihara tersebut hampir kosong, sangat memprihatinkan, dan belum memiliki fasilitas yang layak.

Bagi seorang bhikkhu muda, tanggung jawab ini menjadi ujian kepemimpinan yang nyata. Namun Luang Pu Thongdam menerimanya dengan ikhlas. Beliau mulai merangkul masyarakat sekitar, memperbaiki infrastruktur, dan menghidupkan kembali suasana spiritual di sana. Proses pemulihan ini berjalan sekitar empat tahun hingga vihara menjadi stabil, dan total beliau mengabdi di Wat Prasat Chan Ngo selama kurang lebih 15 tahun.


BAGIAN VI: MENINGGALKAN KEHIDUPAN MENETAP UNTUK THUDONG
Meskipun posisinya sebagai kepala vihara sudah nyaman, Luang Pu Thongdam memilih melepaskan jabatan menetapnya demi panggilan jiwa untuk melakukan Thudong (pertapaan berjalan kaki di alam liar). Beliau mengembara ke berbagai tempat rawan, hingga tiba di wilayah Ubon Ratchathani.

Di sana, ia berguru kepada Phra Ajarn Om, seorang guru spiritual yang menguasai tradisi magis Somdet Lao dari Champasak, Laos. Luang Pu Thongdam menetap dan berguru selama dua tahun. Dari pertapaan ini, beliau dianugerahi sebuah kitab kuno yang sangat sakral bernama "Phra Tham Kao Kot", yang mengombinasikan kekuatan mantra spiritual tingkat tinggi serta metode pengobatan esoteris tradisional.


BAGIAN VII: MENEMBUS HUTAN DAN PERJALANAN PANJANG
Berbekal ilmu yang kian dalam, Luang Pu Thongdam melanjutkan rute Thudong-nya menembus wilayah perbatasan Laos hingga kembali lagi ke Thailand. Beliau sengaja memilih jalur-jalur ekstrem dan sunyi demi menguji kekuatan meditasinya, termasuk melintasi kawasan hutan Dong Phaya Yen yang pada masa itu terkenal angker, penuh ancaman malaria, dan binatang buas.


Pengalaman spartan ini membentuk karakter spiritualnya secara total. Beliau bukan tipikal guru yang menguasai jimat hanya dari membaca naskah, melainkan seorang praktisi tangguh yang menempa ilmunya langsung di bawah ancaman bahaya alam bebas.


BAGIAN VIII: TIBA DI LOPBURI PADA TAHUN 2512 BE DAN BERDIRINYA WAT THAM TAPIAN THONG

Perjalanan panjang Thudong tersebut akhirnya menuntun langkah Luang Pu Thongdam memasuki Provinsi Lopburi pada tahun 2512 BE (1969 Masehi). Beliau mendirikan payung pertapaannya (klod) untuk bermeditasi dengan tenang di depan kawasan Tham Phra Narai Khao Wong.


Saat pertama kali bermeditasi di kawasan tersebut, masyarakat setempat dan kerabat dari seorang warga bernama Mae Phisamai Sae-bang mengamati laku spiritual beliau yang begitu agung dan disiplin. Munculnya rasa kagum dan keyakinan yang besar membuat warga berbondong-bondong mengundang beliau untuk menetap secara permanen, karena lingkungan gua tersebut dinilai sangat hening dan cocok untuk melatih meditasi tingkat dalam.


Tempat pertapaan sunyi di dalam gua inilah yang kemudian dikembangkan bersama warga lokal menjadi Wat Tham Tapian Thong. Di vihara ini pula, Luang Pu Thongdam melegenda melalui kisah menjinakkan energi spiritual "Mae Tapian Thong" (spirit penguasa gua) serta melahirkan mahakarya amulet pelindung murni seperti Phra Khun Paen Jao Sup Jao Saneh dan Takrut tiga logam yang diburu kolektor internasional untuk keberuntungan usaha dan keselamatan.

Comments

Popular posts from this blog

Riwayat Hidup Luang Phor Thuad Wat Chang Hai yang Legendaris

LUANG PU TUAD Kisah Hidup LP Tuad Wat Chang Hai / Somdet Chao Phakho  Luang Pu Tuad adalah salah satu guru spiritual paling terkenal dalam tradisi Thailand Selatan. Kisah hidupnya dimulai dari seorang anak sederhana bernama Pu di wilayah Sathing Phra, Songkhla, yang sejak bayi dipercaya telah menunjukkan tanda-tanda luar biasa, kemudian tumbuh menjadi samanera dan bhikkhu yang sangat terpelajar, melakukan perjalanan hingga Ayutthaya, memperoleh penghormatan dari kerajaan, kembali ke tanah kelahirannya sebagai Somdet Chao Phakho, dan pada akhirnya dikenang sebagai Luang Pu Tuad Yiap Nam Thale Jued, sosok yang dipercaya mampu mengubah air laut menjadi air tawar. BAGIAN I ANAK YANG DILINDUNGI ULAR Kelahiran seorang anak bernama Pu Pada masa Kerajaan Ayutthaya, di sebuah daerah pedesaan di kawasan Sathing Phra, Provinsi Songkhla, hiduplah sepasang suami istri sederhana bernama Nai Hu dan Nang Chan. Mereka tinggal di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Ban Suan Chan, tidak jauh dari wil...

Kisah Indra Keenam (Mata Dewa) Luangpu Hong

KEMAMPUAN INDRA KEENAM LUANG PU HONG KISAH NYATA MATA BATIN DAN PENGALAMAN SPIRITUAL Mengenai kemampuan mata batin atau indra keenam dari Luang Pu Hong Phrompanyo, beliau pernah menceritakan bahwa dirinya sudah bisa melihat hal-hal yang tidak kasatmata sejak masih anak-anak. Beliau menuturkan, sewaktu kecil jika berjalan pulang melewati kuburan desa, beliau terpaksa harus memalingkan wajah ke arah lain agar tidak melihat ke sana. Sebab, sosok-sosok tak kasatmata terlihat berdiri memenuhi area pemakaman tersebut. Tentu saja hal itu merupakan kisah masa lalu yang didengar para murid dengan rasa hormat yang mendalam. Namun, berikut adalah dua peristiwa nyata yang disaksikan langsung oleh para saksi mata dan menjadi bukti ketajaman mata batin beliau. KISAH I: ARWAH YANG TERJEBAK DI DALAM PENJARA Bantuan untuk Arwah Ayah Peristiwa ini terjadi di Wat Nok (Soi Phanit Thon). Pihak vihara mengundang Luang Pu Hong agar umat setempat berkesempatan berdana dan berbuat kebajikan bersama beliau. Set...

Sejarah, Effect dan Mantra Nang Kwak + LP Hong Nang Kwak Amulet [Buddhist Amulet]

Nang Kwak - Lady Luck Nang Kwak sang Dewi Legendaris dipuja sebagai Dewi Rejeki atau pelindung para pedagang. Nang Kwak adalah salah satu Legenda terpouler Thailand yang sudah ada sejak Buddhisme belum menjamah Thailand. Dengan posisi tangan melambai yang seolah memanggil / mengundang Nang Kwak kadang disebut "Dewi Pengundang" baik itu keberuntungan maupun reheki untuk datang kepada umat / si pedagang yang berdoa memujanya. Dewi Nang Kwak secara khusus dipuja untuk mengundang keberuntungan dan kekayaan baik itu kepada toko maupun rumah tangga yang memujanya. Dewi Nang Kwak biasa tampil dengan mengenakan kostum tradisional Thailand . pada tangan kirinya terdapat sebuah kantong uang yang merupakan simbol rejeki yang dikumpulkan dan tangan kanan diangkat dan melambai ke arah depan memanggil pelanggan untuk datang ke toko . dan keberuntungan untuk menghampirinya. Dewi Nang Kwak juga digambarkan dengan mengenakan Mahkota Emas dan duduk dengan posisi bersimpuh. ...